Djarum Superliga direncanakan masuk kalender BWF

Jakarta (ANTARA News) - Kejuaraan bulu tangkis beregu antarklub, Djarum Superliga, direncanakan masuk ke dalam kalender turnamen Badan Bulu Tangkis Dunia (BWF) mulai tahun 2018 mendatang.

"Kami merencanakan tahun depan Djarum Superliga akan masuk dalam kalender BWF, sekarang kami sedang mencari tanggalnya untuk menggelar ini," kata Event Manager Djarum Superliga Badminton Bambang Roedyanto, di Jakarta, Rabu.

Pihak penyelenggara menghendaki waktu penyelenggaraan diubah dari saat ini sebelum All England menjadi setelahnya dengan pertimbangan lebih banyak peserta mancanegara yang akan ikut serta.

"Selain itu, persiapan atlet untuk All England juga tidak akan terganggu," kata Bambang yang juga merupakan pengurus PP PBSI bidang hubungan internasional.

Bambang menyebut pihaknya akan mencari waktu yang kemungkinan akan berbarengan dengan turnamen Selandia Baru Terbuka yang berlabel Grand Prix Gold, sehingga tidak akan berbarengan dengan agenda BWF berlabel Super Series yang sarat diikuti pebulu tangkis papan atas dunia.

Untuk kejuaraan tahun 2017 ini, Djarum Superliga belum masuk kalender BWF. Pasalnya, jelas Bambang, waktu yang ada sempit untuk persiapan dan pelaporan ke federasi dunia bulu tangkis tersebut.

"Persyaratannya harus ada laporan sembilan bulan sebelum gelaran, kami persiapan sejak Agustus, jadi waktunya sangat pendek untuk didaftarkan ke dalam kalender. Namun tahun depan kami masukkan," ujarnya.

Kendati belum masuk kalender BWF, Djarum Superliga 2017 dipastikan akan diikuti atlet bulu tangkis papan atas dunia seperti Lee Chong Wei (Malaysia), Ko Sung Hyun (Korea), Chou Tien Chen (Taiwan), Tanongsak Saensomboonsuk (Thailand) dan Ma Jin (China).

Termasuk nama-nama mendunia dari Indonesia, yaitu Mohammad Ahsan, Hendra Setiawan, Tommy Sugiarto, Greysia Polii dan para pemain top lainnya yang siap beradu di turnamen beregu antar klub internasional berhadiah total 250 ribu dolar AS atau setara dengan Rp3,3 miliar tersebut.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar