Taliban tolak gencatan senjata pemerintah, culik hampir 200 penumpang bus

Taliban tolak gencatan senjata pemerintah, culik hampir 200 penumpang bus

Pemrotes menyerukan yel-yel saat beraksi di Maimana, ibukota provinsi Faryab, Afghanistan, Minggu (8/7/2018). ANTARA (REUTERS/Stringe)

Peshawar, Pakistan, (ANTARANews) - Taliban menolak pada Senin tawaran pemerintah untuk memberlakukan gencatan senjata dan menyatakan mereka akan tetap melancarkan serangan-serangan, kata para panglima milisi tersebut.

Sementara itu para petempur Taliban menghadang tiga bus dan menculik hampir 200 penumpang yang pergi untuk berlibur.

Dua panglima Taliban mengatakan pemimpin tertinggi mereka menolak tawaran Presiden Afghanistan Ashraf Ghani tentang gencatan senjata tiga bulan yang disampaikan pada Minggu, mulai libur Idul Adha pekan ini.

Pada Juni, Taliban menyetujui gencatan senjata pemerintah selama libur Idul Fitri tiga hari. Gencatan senjata itu dimanfaatkan tentara pemerintah dan petempur. Tak pernah terjadi sebelumnya mereka saling berangkulan di garis-garis depan, dan menaikkan harapan untuk melakukan pembicaraan.

Tapi satu panglima Taliban mengatakan gencatan senjata Juni telah membantu pasukan Amerika Serikat, yang Taliban berusaha singkirkan dari bumi Afghanistan. Pemimpin Taliban Syeh Haibatullah Akhunzada menolak tawaran baru itu atas dasar bahwa hal itu hanya akan membantu misi pimpinan Amerika.

"Kepemimpinan kami merasa bahwa mereka akan tinggal lama di Afghanistan jika kami mengumumkan gencatan senjata sekarang," kata panglima itu melalui telepon, sebagaimana dilaporkan Reuters. Sumber itu tak bersedia jatidirinya disebutkan.

Seorang pejabat di kantor Ghani mengatakan gencatan senjata tiga bulan yang diberlakukan pemerintah bersyarat, dan jika Taliban tidak menghormatinya, pemerintah akan tetap melancarkan operasi-operasi militer.

Baca juga: 30 syiah Afghanistan diculik, Taliban bantah jadi pelaku

Taliban telah melancarkan serangkaian serangan dalam beberapa pekan belakangan, termasuk di Kota Ghazni, di sebelah baratdaya Kabul. Ratusan orang telah tewas dalam pertempuran itu.

Pejabat-pejabat pemerintah berusaha membebaskan sedikitnya 170 warga sipil dan 20 anggota pasukan keamanan yang disandera Taliban dari tiga bus di Provinsi Kunduz, Afghanistan Utara.

Esmatullah Muradi, juru bicara gubernur Kunduz, mengatakan penculikan tersebut terjadi ketika bus-bus itu sedang dalam perjalanan melewati Kunduz dari Provinsi Takhtar.

"Bus-bus itu dihadang petempur Taliban, para penumpangnya dipaksa turun dan mereka dibawa sebuah lokasi yang belum diketahui," kata Muradi.

Seorang panglima Taliban di Afghanistan mengatakan sandera-sandera sipil dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk dikirim pulang ke rumah mereka.

Namun, para anggota pasukan keamanan Afghanistan telah dipindahkan ke penjara rahasia Taliban. "Sangat mungkin kami akan pertukarkan mereka dengan para tahanan kami nanti," kata panglma itu.

Baca juga: Seorang Wanita Inggris Diculik di Afghanistan
Baca juga: Al Qaida Serukan Penculikan Warga Asing di Afghanistan


Editor: Mohammad  Antoni / Gusti Nur Cahya Aryani 

Pewarta:
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar