counter

Metropolitan

Wali Kota Jaksel perintahkan sekolah petakan masalah tawuran

Wali Kota Jaksel perintahkan sekolah petakan masalah tawuran

Walikota Jakarta Selatan Marullah Matali memberi arahan ke 223 kepala sekolah dan 446 siswa SMA dan SMK pada Deklarasi Pelajar Anti-Tawuran di Aula SMA Takaranita, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2018). (Genta Tenri Mawangi)

Jakarta (ANTARA News) - Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali meminta agar tiap kepala sekolah segera memetakan masalah kesiswaan, khususnya tawuran di tempatnya masing-masing untuk mencegah tindak kekerasan di kalangan pelajar.

“Saya minta agar dipetakan masalahnya di masing-masing sekolah, nanti laporannya diserahkan ke Kasudin (Kepala Suku Dinas) Pendidikan (Joko Sugiarto), nanti kita duduk bersama memikirkan solusi bersama (untuk mengantisipasi tawuran),” kata Marullah saat menghadiri acara Deklarasi Palajar Anti-Tawuran di Aula SMA Takaranita, Jakarta Selatan, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa pemetaan masalah itu merupakan bentuk konkrit kepedulian pihak sekolah dan pemerintah dalam merespon masalah tawuran.

“Kita harus menunjukkan kepedulian yang universal, yang menyeluruh,” terang wali kota Jakarta Selatan.

Marullah juga mengajak pihak kepolisian dan tentara untuk duduk bersama pihak sekolah serta pihak pejabat terkait untuk merumuskan penyelesaian konkret.

“Kita jangan berpikir soal punishment (hukuman), tetapi kita cari apa yang kurang, itu dibahas dan diselesaikan bersama,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Marullah turut menyampaikan keprihatinannya atas insiden tawuran yang melibatkan siswa SMAN 32 Jakarta Selatan, hingga mengakibatkan satu orang tewas.

“Kejadian itu sungguh mengiris hati,“ sebut Marullah.

Dalam acara deklarasi yang dihadiri 223 kepala sekolah dan 446 siswa SMA dan SMK di Jakarta Selatan, Marullah menyampaikan pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan inspeksi mendadak ke kalangan siswa secara berkala.

“Di waktu tertentu secara mendadak, guru perlu memeriksa barang bawaan siswa,” tambahnya.

Usai memberi arahan, seorang siswa SMAN 74 Jakarta, Febi Nurizal menyampaikan bahwa seringkali aksi tawuran dipicu oleh dendam dan konflik antartongkrongan.

“Banyak siswa bermasalah, termasuk mereka yang sudah dikeluarkan berkumpul di satu tongkrongan, dan dari sana konflik muncul, bagaimana kami harus bersikap?” tanya pelajar itu.

Baca juga: Pelajar SMA deklarasi anti-tawuran
Baca juga: KPAI tegaskan akar masalah tawuran harus diurai

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar