counter

Laporan dari New York

Wapres serukan dunia bersatu berantas tuberkulosis

Wapres serukan dunia bersatu berantas tuberkulosis

Wapres JK bersama delegasi berjalan kaki menuju Markas besar PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu pagi waktu setempat. (26/9/2018) (M Arief Iskandar)

Tuberkulosis semakin resistan terhadap obat. Oleh karena itu, Pertemuan PBB tentang tuberkulosis pertama kali ini tepat waktu. 
New York (ANTARA News) - Wakil Presiden M Jusuf Kalla menyerukan agar dunia bersatu dalam rangka melawan penyakit tuberkulosis.

Wapres usai berbicara dalam Panel Tingkat Tinggi di Markas Besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat, Rabu waktu setempat, mengatakan, adanya tren tuberkulosis kembali meningkat.

“Sekarang ini kelihatannya ada trendnya, dunia harus bersatu kembali untuk menyelesaikan ini (tuberkulosis),” kata Wapres.

Penyakit   pembunuh nomor 4 dunia tersebut, menurut Wapres lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti lingkungan dan kemiskinan.

Wapres sendiri saat berbicara dalam panel tingkat tinggi yang pertama kalinya diselenggarakan di PBB tersebut, mengharapkan agar dapat dihasilkan misi yang pragmatis, konkret dan ditargetkan untuk dapat menghilangkan penyakit tersebut.

Wapres menyatakan, lebih dari lima ribu orang meninggal akibat tuberkulosisi setiap hari. Namun tuberkulosis dapat dicegah dan diobati.

Penyakit tersebut juga semakin resistan terhadap obat. Oleh karena itu, Pertemuan PBB tentang tuberkulosis pertama kali ini tepat waktu. 

"Kita harus menghasilkan tanggapan yang kuat dan komprehensif untuk mengakhiri penyakit," kata Wakil Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres menegaskan tiga hal. Pertama, setiap negara harus menerapkan secara konkrit strategi nasionalnya masing-masing untuk mengakhiri tuberkulosis.

Wapres mengatakan, pemerintah menargetkan dapat menghilangkan tuberkulosis pada 2030 dan mencapai Indonesia bebas tuberkulosis pada 2050.

Kedua, harus ada upaya yang lebih terpadu untuk memperkuat kapasitas untuk deteksi dini kasus tuberkulosis, khususnya kasus baru yang melibatkan galur yang resisten terhadap obat-obatan.

Ketiga, harus ada akses yang lebih besar dan setara dengan layanan kesehatan berkualitas untuk masyarakat umum.

Sementara Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan untuk pemberantasan tuberkulosis sendiri tidak bisa dilakukan sendiri, namun perlu kerja sama dengan berbagai negara.

Seperti terkait penyediaan obat berkualitas dan murah yang terjangkau oleh penderita, katanya.

Sementara itu, Wakil Presiden M Jusuf Kalla sebelum berbicara dalam panel tingkat tinggi tersebut, menerima Imam  Masjid Islamic Center New York, Shamsi Ali, saat makan pagi.

Dalam kesempatan Shamsi Ali juga menyampaikan sooal pembangunan pesantren di AS yang telah dimulai.

Baca juga: Jusuf Kalla hadiri pembukaan Sidang Umum PBB ke-73
Baca juga: Isu Rohingya masih akan mengemuka di SMU PBB

 

Pewarta: M Arief Iskandar
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar