Pertemuan IMF-WB

Bank Dunia: Indonesia perlu tingkatkan investasi "human capital"

Bank Dunia: Indonesia perlu tingkatkan investasi "human capital"

Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mengikuti sesi wawancara khusus dengan sebuah stasiun televisi di sela-sela rangkaian dari Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Kamis (11/10). (ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun/wsj/2018.)

"...investasi dalam kesehatan dan pendidikan belum mendapatkan perhatian yang layak"
Nusa Dua (ANTARA News) - Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mendorong pemerintah semua negara dengan nilai Human Capital Index (HCI) yang masih rendah, termasuk Indonesia, untuk mengambil langkah cepat dan tepat untuk meningkatkan investasi human capital.

Berdasarkan laporan HCI Bank Dunia yang diluncurkan dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10), nilai HCI Indonesia 0,53 yang diukur berdasarkan jarak masing-masing negara ke titik batas masa pendidikan dilaksanakan secara lengkap dan kesehatan secara penuh untuk anak yang lahir hari ini dalam skala 0-1, dengan 1 menjadi nilai terbaik.

Presiden Bank Dunia menggarisbawahi human capital yang meliputi keseluruhan pengetahuan dan keterampilan dan kesehatan yang dimiliki individu selama hidup mereka telah menjadi faktor kunci di balik pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan tingkat pengurangan kemiskinan di banyak negara pada abad ke-20, terutama di kawasan Asia Timur.

"Namun demikian, investasi dalam kesehatan dan pendidikan belum mendapatkan perhatian yang layak. Indeks ini menghubungkan langsung perbaikan hasil di bidang kesehatan dan pendidikan, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi. Saya berharap ini mendorong negara-negara untuk mengambil tindakan segera dan berinvestasi lebih banyak, lebih efektif pada masyarakat mereka," kata Jim Yong Kim.

Sementara itu, empat negara dengan pendapatan menengah di kawasan ASEAN lainnya, yakni Malaysia 0,62; Filipina 0,55; Thailand 0,60; dan Vietnam 0,67. Vietnam baru-baru ini mencapai salah satu skor PISA tertinggi untuk rata- rata negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

HCI mencerminkan produktivitas anak yang lahir hari ini sebagai pekerja masa depan, dibandingkan dengan kemungkinan yang bisa terjadi jika ia memiliki kesehatan yang baik dan pendidikan yang lengkap serta berkualitas tinggi.

Ukuran penghitungan meliputi 3 kriteria, yakni kelangsungan hidup (akankah anak-anak yang lahir hari ini bertahan hidup hingga mereka mencapai usia sekolah?), pendidikan (berapa banyak masa sekolah yang akan mereka selesaikan dan berapa banyak yang akan mereka pelajari?), kesehatan (apakah mereka akan meninggalkan bangku sekolah dengan kesehatan yang baik, siap untuk belajar lebih lanjut dan/atau bekerja saat mereka dewasa?).

Menurut kriteria tersebut, jika skor suatu negara, misalnya 0,5, berarti individu dan negara secara keseluruhan kehilangan setengah potensi ekonomi masa depan mereka.

Artinya, HCI Indonesia yang 0,53 mengindikasikan pemerintah perlu meningkatkan investasi yang efektif untuk meningkatkan kualitas human capital melalui kesehatan dan pendidikan demi daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.

Bank Dunia mengukur HCI berdasarkan tingkat pendapatan dari 158 negara yang menunjukkan bahwa 56 persen anak-anak yang lahir hari ini di seluruh dunia akan kehilangan lebih dari setengah potensi pendapatan seumur hidup mereka karena pemerintah mereka saat ini belum melakukan investasi yang efektif pada penduduk untuk memastikan populasi yang sehat, berpendidikan, dan tangguh siap untuk tempat kerja di masa depan.

Singapura menjadi negara dengan HCI tertinggi di dunia dengan nilai 0,88, sementara di Asia, angka tersebut disusul Jepang dan Korea Selatan dengan HCI masing-masing 0,84.

Baca juga: IMF-WB - Presiden: Gelombang inovasi harus disikapi dengan regulasi yang ramah

Baca juga: IMF ingatkan ekonomi global belum cukup kuat

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar