counter

Menyusut, penutur bahasa lokal Jayapura

Menyusut, penutur bahasa lokal Jayapura

Dokumentasi - Seorang anak dengan membawa anak panah berada di atas perahu bersama sekelompok warga lainnya usai melakukan tarian perang pada sebuah festival di Danau Sentani. (FOTO ANTARA/Anang Budiono)

Jayapura (ANTARA News) - Penutur bahasa-bahasa lokal Jayapura makin menyusut menurut hasil penelitian yang dilakukan Pemerintah Kota Jayapura bersama Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat Suharyanto di Jayapura, Minggu, mengatakan penelitian yang dilaksanakan tahun 2009 dan 2010 mencakup penggunaan bahasa lokal di 14 kampung yang ada di Kota Jayapura, termasuk bahasa Nafri, Tobati, Kayu Pulau, Sentani, Skouw dan Moso, yang berbatasan dengan Papua Nugini.

Suharyanto mengatakan menurut hasil penelitian penutur bahasa lokal makin sedikit antara lain karena warga kampung kebanyakan beralih menggunakan Bahasa Indonesia dalam kegiatan sehari-hari.

Warga, menurut dia, berangsur-angsur beralih dari bahasa lokal karena kebutuhan sehari-hari mereka berinteraksi dengan warga dari luar kota menuntut mereka menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh warga dari luar kota, yakni Bahasa Indonesia.

Ia menjelaskan jumlah penduduk kampung di Jayapura umumnya kecil dan komunitas mereka tidak menghasilkan semua yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga mereka harus membelinya dari warga dari luar daerah yang tidak memahami bahasa lokal mereka.

"Sebagai contoh kampung Nafri, yang jumlah penuturnya yang tidak sampai 1.000 orang dan di situ tidak ada industri pakaian, bentuk industri yang tradisional apalagi modern, maka untuk memenuhi kebutuhan hidup berupa pakaian dia harus mengambil dari masyarakat di luar Nafri yang menghasilkan pakaian itu," katanya.

Warga Nafri juga harus berhubungan dengan warga dari luar daerah untuk mendapatkan bahan pangan seperti tepung terigu dan minyak goreng.

Mereka mau tidak mau harus menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama dalam berkomunikasi dengan para penyedia barang-barang kebutuhan sehari-hari, dalam hal ini Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu Papua, sehingga lama kelamaan lebih terbiasa menggunakan bahasa tersebut ketimbang bahasa lokal mereka.*


Baca juga: Bahasa daerah di Kota Jayapura dikhawatirkan punah

Pewarta: Musa Abubar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar