Guru Besar Unsoed dorong penggunaan teknik pengolahan citra digital

Guru Besar Unsoed dorong penggunaan teknik pengolahan citra digital

Prof Dr Eng Retno Supriyanti, ST, MT saat membacakan orasi ilmiah berjudul "Teknik Pengolahan Citra Digital Dalam Pengembangan Peralatan Pendukung Diagnosis Untuk Meningkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat di Negara Berkembang" di Gedung Soemardjito, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (18/12/2019). (FOTO ANTARA/HO-Unsoed)

Kami saat ini sudah mengaplikasikan teknik pengolahan citra digital dalam beberapa perangkat diagnosis, yaitu deteksi dini katarak, peningkatan kualitas citra USG resolusi rendah, identifikasi ketidaknormalan sel darah putih, dan identifikasi tingkat
Purwokerto (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Dr Eng Retno Supriyanti, S.T., M.T. mendorong penggunaan teknik pengolahan citra digital sebagai alternatif dalam pengembangan peralatan diagnosis kesehatan yang sesuai dengan permasalahan yang saat ini dihadapi.

"Kami saat ini sudah mengaplikasikan teknik pengolahan citra digital dalam beberapa perangkat diagnosis, yaitu deteksi dini katarak, peningkatan kualitas citra USG resolusi rendah, identifikasi ketidaknormalan sel darah putih, dan identifikasi tingkat keparahan Alzheimer," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu.

Retno mengatakan hal itu dalam orasi ilmiah berjudul "Teknik Pengolahan Citra Digital Dalam Pengembangan Peralatan Pendukung Diagnosis Untuk Meningkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat di Negara Berkembang" yang disampaikan saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Komputasi Numeris di Gedung Soemardjito Unsoed Purwokerto.

Retno Supriyanti merupakan Guru Besar Ke-70 di Unsoed Purwokerto dan Guru Besar pertama di Fakutas Teknik Unsoed Purwokerto.

Lebih lanjut, Retno mengatakan pengolahan citra digital merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang bagaimana suatu citra itu dibentuk, diolah, dan dianalisis sehingga dapat dipahami oleh manusia.

Terkait dengan deteksi dini katarak, dia mengatakan katarak atau kekeruhan lensa merupakan kondisi terjadinya kekeruhan pada organ mata, yaitu lensa mata.

"Gangguan mata ini merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat diobati di dunia saat ini. Angka penderita katarak di Indonesia masih tertinggi di Asia Tenggara karena mencapai 2,4 juta dan terus bertambah satu persen setiap tahunnya, dan yang sangat memrihatinkan adalah banyak penderitanya di usia produktif," katanya.

Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, dia mengembangkan suatu sistem untuk mendeteksi dini katarak dengan teknik pengolahan citra digital.

Menurut dia, teknik tersebut sangat mendukung penggunaan peralatan yang berharga murah serta mudah digunakan sehingga dapat dipakai oleh setiap orang meskipun tidak berasal dari dunia medis.

"Dalam sistem ini, kami memilih untuk menggunakan kamera digital biasa, dengan pertimbangan bahwa kamera ini mudah digunakan tanpa memerlukan pelatihan khusus sehingga setiap orang bisa menggunakannya dengan mudah, bentuknya yang kecil dan ringan sehingga mudah dibawa ke mana saja, serta harganya cukup murah dibandingkan dengan slit-lamp ataupun optalmoskop," katanya.

Dari sisi teknik pengolahan citra, dia memanfaatkan penggunaan specular reflection (suatu pantulan cahaya yang terjadi pada suatu permukaan, red.) yang tampak di dalam pupil mata.

Ia mengatakan mengacu pada hukum snellius, cahaya yang menimpa permukaan specular akan tercermin pada sudut yang mencerminkan sudut cahaya datang, dalam hal ini sudut pandang menjadi sesuatu yang sangat penting.

"Metode kami mengacu pada proses terjadinya specular reflection itu sendiri, hanya saja permukaan yang digunakan di sini adalah lensa mata. Selain menggunakan metode specular reflection, kami juga menganalisis tekstur dari citra pupil tersebut," katanya.

Retno mengatakan hal itu dilakukan dengan asumsi bahwa untuk kondisi serius, di mana terdapat kekeruhan di lensa mata, maka akan membuat keseragaman tekstur (uniformity) menjadi lebih kecil dibandingkan dengan kondisi tidak serius.



Sementara dari sisi intensitas cahaya (average intensity), dia menggunakan asumsi bahwa intensitas cahaya untuk kondisi serius lebih besar daripada kondisi tidak serius.

"Hal ini disebabkan oleh adanya warna keputihan di dalam lensa mata yang menyebabkan intensitas cahaya menjadi lebih besar," demikian Retno Supriyanti.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar