Mogadishu (ANTARA News/Reuters) - Kelompok gerilyawan garis keras Somalia, al-Shabaab, telah memerintahkan badan pangan PBB untuk menghentikan semua operasi dan meninggalkan negara Tanduk Afrika yang gagal itu, demikian pernyataan gerilyawan tersebut, Ahad.

Operasi Program Pangan Dunia (WFP) di Somalia telah menghadapi beberapa tantangan dalam beberapa bulan belakangan, termasuk tuduhan mengenai pengalihan pangan oleh pekerjanya pada gerilyawan. Badan itu mengesampingkan tuduhan tersebut setelah penyelidikan internalnya sendiri.

"Berlaku mulai hari ini, semua operasi WFP di Somalia telah diakhiri dan organisasi itu telah dilarang sama sekali," kata al-Shabaab dalam pernyataan tersebut.

Kelompok itu mengatakan penyaluran pangan badan tersebut berdampak negatif pada petani setempat dan menuduh organisasi itu membagi-bagikan pangan yang sudah kedaluwarsa dan menyembunyikan tujuan politik tersamar seperti memberikan bantuan pada orang-orang Ethiopia.

"Semua orang Somalia, pengusaha dan supir truk yang sekarang ini dikontrak atau bekerja pada WFP dengan ini diperintahkan untuk mengakhiri kontrak mereka dengan segera," pernyataan itu menambahkan.

Setiap orang yang didapati bekerja pada badan itu setelah perintah tersebut akan dipertimbangkan sebagai kakitangan skema organisasi itu dan bersalah membantu dalam kehancuran ekonomi, kata al-Shabaab dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh lembaganya yang diberi nama sendiri Kantor untuk Mengawasi Urusan Badan-badan Asing.

Ditanya mengenai perintah itu, Peter Smerdon, jurubicara Program Pangan Dunia di Nairobi, menjawab Reuters: "WFP telah memutuskan untuk membantu rakyat Somalia yang memerlukan bantuan, tanpa menghiraukan siapa yang mengusasi daerah di mana mereka tinggal, sepanjang itu aman staf kami akan melakukan demikian itu".

Al-Shabaab sebelumnya telah memerintahkan badan itu untuk berhenti mengimpor pangan untuk bantuan ke negara itu dan ke sumber pangan dari petani Somalia mulai awal tahun ini.

Gerlyawan itu menguasai sebagian besar dari wilayah selatan negara itu yang dirusak kekeringan, tempat pertempuran antara gerilyawan dan tentara pemerintah telah memperburuk salah satu krisis kemanusiaan paling akut di dunia itu.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB memperkirakan bahwa hampir separuh penduduk Sonalia memerlukan bantuan dan negara itu memiliki tingkat kekurangan gizi paling tinggi di dunia.

WFP, yang berada di pusat tanggapan internasional akan krisis itu, bulan lalu menghentikan operasi di banyak tempat di Somalia selatan, dengan menyebut syarat dan permintaan dari kelompok bersenjata yang tak dapat diterima.

Pertempuran di Somalia, yang telah tidak memiliki pemerintah pusat yang efektif selama 19 tahun, telah menewaskan sedikitnya 21.000 orang dan memaksa lebih dari 1,5 juta orang meninggalkan rumah mereka sejak awal 2007. (S008/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010