Unand luncurkan program kampus merdeka untuk nagari mandiri

Unand luncurkan program kampus merdeka untuk nagari mandiri

Rektor Universitas Andalas Padang, Prof Mansyurdin. ANTARA/Ikhwan Wahyudi/aa.

Padang (ANTARA) - Universitas Andalas (Unand) Padang meluncurkan program kampus merdeka untuk nagari mandiri sebagai komitmen melaksanakan program merdeka belajar yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Untuk implementasi program merdeka belajar untuk nagari mandiri atau nagari tageh, orientasinya membangun nagari dengan jangka waktunya adalah enam bulan," kata Wakil Rektor I Unand Mansyurdin di Padang, Senin pada peluncuran secara daring.

Menurut dia, dalam program kampus merdeka untuk nagari mandiri, masuk di dalamnya pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata selama 40 hari yang selama ini telah dilaksanakan.

"Kemudian bentuk pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa pada program ini adalah terintegrasi dengan KKN tematik hingga penanggulangan bencana," kata dia.

Baca juga: Epidemiolog: Informasikan kejadian pascaimunisasi pada masyarakat

Baca juga: Vaksinasi COVID-19 harus perhatikan skenario protokol kesehatan


Ia menjelaskan ruang lingkup program kampus merdeka ini yaitu membangun desa mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial, hukum, kesehatan, kebencanaan dan lainnya.

"Untuk tahap awal sebelum memulai program merdeka belajar di nagari maka langkah awal adalah mempelajari rencana kerja pemerintah nagari," ujarnya.

Setelah data rencana kerja pemerintah nagari diperoleh maka mahasiswa bisa memilih fokus yang akan menjadi aktivitas selama enam bulan.

Kemudian pihaknya juga akan membuat database nagari membangun sehingga setiap kegiatan yang dibuat tercatat hasilnya dan dampaknya.

Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Nizam menyampaikan kegiatan kuliah kerja nyata sebagai pengejawantahan program kampus merdeka bisa diperpanjang hingga satu tahun sehingga mahasiswa bisa melakukan pendampingan di desa.

Apalagi saat ini ada 78 ribu menerima kucuran dana desa senilai Rp1 miliar per desa dengan kondisi 27 ribu desa masih dalam kondisi desa tertinggal.

Kehadiran mahasiswa selama 6-12 bulan dapat mendampingi perencanaan program, mulai dari kajian potensi desa, masalah dan tantangan pembangunan di desa dan menyusun prioritas pembangunan, merancang program, katanya.

"Kemudian mendesain sarana dan prasarana, memberdayakan masyarakat, bumdes, mensupervisi pembangunan, hingga monitoring dan evaluasi sehingga efektifitas penggunaan dana desa untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi dapat ditingkatkan," kata dia.

Perguruan tinggi dapat juga menyusun program mahasiswa membangun desa dengan mengintegrasikan KKN dengan mata kuliah dan kecakapan lain yang dibutuhkan mahasiswa sehingga bobot kegiatan setara 20 SKS, ujarnya.

Dalam hal ini mahasiswa melaksanakan program, setiap bulan melaporkan kegiatan, dosen memberi assignment, di akhir program mahasiswa dapat membuat karya tulis berupa kajian pembangunan desa sebagai tugas akhir, atau membuat karya video.*

Baca juga: Informasi utuh dan komprehensif tantangan vaksinasi COVID-19

Baca juga: Pandemi berakhir bila masyarakat disiplin terapkan protokol kesehatan

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemendikbud dan BI siap gelar program Kampus Merdeka

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar