Kerinci (ANTARA News) - Katak Bertanduk dan katak Terbang adalah dua jenis satwa unik yang mendiami dasar tanah dan pepohonan di rimba Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan populasinya masih terbilang cukup besar.

"Ya, Katak Bertanduk dan Katak terbang adalah dua jenis katak yang mendiami hutan TNKS yang populasinya masih aman," kata Kepala Balai Besar TNKS Ir Luhut Sihombing melalui Staff Humas dan Evaluasi Lapangan (Evlap), Yohan Hendratmoko, di Kerinci, Selasa.

Dikatakannya, setiap pengunjung yang memasuki kawasan TNKS sudah dapat dipastikan akan langsung dapat menjumpai keberadaan dua jenis katak tersebut bersama puluhan jenis katak lainnya. Diyakini populasinya masih ribuan ekor.

Selain bunyian primata seperti siamang dan simpase, serta nyanyian merdu burung dan serangga hutan, katak adalah tuan rumah pertama TNKS yang menyambut pengunjung saat memasuki hutan.

Katak bertanduk sendiri, kata dia, adalah jenis katak yang unik, habitatnya adalah permukaan tanah humus yang lembab. Mereka bersembunyi di balik tumpukan dedaunan, bebatuan dan bongkahan kayu. Secara fisiologis, katak ini memiliki ciri anatomis yang tidak berbeda dari katak lainnya.

Hanya saja ada sepasang tanduk di atas kepalanya yang menyembul dari sepasang alis. Tanduk tersebut bukan tulang seperti pada mamalia sapi, kambing, atau kerbau, melainkan tonjolan kulitnya yang memang lebih keras.

Mereka berkamuflase dengan dasar tanah dengan warna dan tekstur kulitnya yang menyerupai tanah dan kayu.

Begitu juga halnya dengan Katak Terbang. Menurut riset peneliti LSM internasional Fauna Flora Internasional (FFI), J Holden, katak tersebut sesungguhnya adalah jenis peluncur.

Dalam riset, dia menemukan dari 27 jenis katak yang ditemukan dalam setiap areal dalam radius 1 kilometer persegi, termasuk di dalamnya selalu dijumpainya keberadaan dua jenis katak terbang tersebut.

Katak tersebut bisa berpindah tempat dengan cepat dari satu pohon ke pohon lain dengan meluncur seperti halnya yang dilakukan satwa lamur terbang. Jarak lucurnya bisa mencapai 3-5 meter lebih.

Menurut dia, kedua jenis katak luncur tersebut adalah jenis katak terbang terbesar di dunia, yakni dari jenis katak terbang Wallace dan katak terbang Reindwarth.

"Sebagai jenis katak pada umumnya, katak bertanduk dan katak terbang juga merupakan mangsa dari reptilian seperti ular, juga mangsa bagi burung elang dan burung hantu. Karena populasinya besar maka tidak terlalu dikuatirkan kelestariannya meski terus dimangsa," tandas Yohan. (ANT-144/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010