BKKBN: Pemakaian alat kontrasepsi pasca persalinan harus digencarkan

BKKBN: Pemakaian alat kontrasepsi pasca persalinan harus digencarkan

Tangkapan layar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam acara “Ber KB Secara Mudah dan Berkualitas Hanya dalam Satu Genggaman” yang diikuti secara daring di Youtube BKKBN Official di Jakarta, Minggu (26/9/2021). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menegaskan pemakaian alat kontrasepsi pasca-persalinan harus terus digencarkan untuk menciptakan generasi bangsa yang berkualitas.

“Mari, pemakaian alat kontrasepsi harus kita gencarkan setelah persalinan, masa interval, persiapan sebelum hamil supaya cukup kondisi (ibu) sehat dulu, maka pakailah kontrasepsi,” kata Hasto dalam acara “Ber -B Secara Mudah dan Berkualitas Hanya dalam Satu Genggaman” yang diikuti secara daring di Youtube BKKBN Official di Jakarta, Minggu.

Baca juga: BKKBN targetkan 70 persen ibu ikuti program KB pascapersalinan

Hasto menyebut Indonesia memiliki kurang lebih 4,8 juta hingga lima juta persalinan setiap tahun. Namun, kehamilan tersebut merupakan kehamilan yang tidak direncanakan akibat banyaknya ibu yang belum menggunakan alat kontrasepsi.

Kehamilan yang tidak direncanakan tersebut, kata dia, tidak memberikan jarak kehamilan antara anak pertama dan kedua (birth to birth interval), sehingga dapat menciptakan permasalahan yang cukup serius bagi tumbuh kembang bayi, baik secara fisik maupun mental.

Secara mental, kata Hasto, dapat terjadi kecemburuan antaranak, karena perhatian ibu yang terbagi, baik kepada bayi yang baru lahir, juga kesehatan mental ibu sendiri. Kecemburuan tersebut membuat anak pertama menjadi tidak bahagia dan akan berpengaruh pada 1000 hari kehidupan pertama (HPK).

Tidak adanya jarak kehamilan antaranak itu, juga dapat memunculkan kemungkinan anak menderita masalah mental (mental emotional disorder), terkena autisme serta terdampak stunting (anak lahir kerdil).

“Dari situ, segala gangguan di dalam kehidupan 1000 HPK sebelum usia dua tahun sangat mempengaruhi kualitas masa depan anak ini. Ingat! kalau tidak KB, tidak menjarangkan anak, tentu sangat serius dampaknya,” ujar dia.

Sedangkan untuk permasalahan fisik, akibat bayi mengalami kondisi kesehatan yang tidak optimal (sub-optimal health) dan kondisi gizi yang tidak optimal (sub optimal nutritional), bayi tidak dapat tumbuh tinggi secara maksimal, kecerdasan anak terganggu dan rentan terkena penyakit.

Baca juga: BKKBN targetkan penduduk tumbuh seimbang dengan alat kontrasepsi

Baca juga: Kepala BKKBN luncurkan alat kontrasepsi implan di Gorontalo


Ia mengatakan ibu tidak perlu khawatir, sebab saat ini sudah ada berbagai jenis alat kontrasepsi, baik yang bersifat hormonal atau tidak, yang dapat memberikan sejumlah manfaat bagi ibu.

“Ada yang punya efek samping, yang justru mengenakkan. Karena, memakai kontrasepsi ada yang haidnya menjadi tidak sakit, ada yang jadi langsing, ada juga karena pakai kontrasepsi kulitnya bisa jadi halu,” kata dia menjelaskan berbagai manfaat yang dapat diberikan alat kontrasepsi saat ini.

Ia berharap setelah mengetahui pentingnya pemakaian alat kontrasepsi dan manfaat yang diberikan, ibu dapat menggunakan alat kontrasepsi yang dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan kualitas bayi yang lahir sebagai generasi masa depan.

“Itulah manfaat kontrasepsi yang saya kira perlu selalu disosialisasikan di masa-masa interval. Masa- masa kita harus memakai alat kontrasepsi,” kata Hasto.

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kini warga Ber-KB tak perlu dipaksa-paksa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar