Mogadishu (ANTARA News/Reuters) - Pergolakan kekuasaan sengit antara para pemimpin Somalia membuka jalan bagi gerilyawan muslim garis untuk meningkatkan perlawanan terhadap pemerintah, kata pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika, Kamis.

Ofensif militer di ibu kota Somalia, Mogadishu, dan wilayah selatan negara itu sebelumnya tahun ini tampaknya telah membuat mundur gerilyawan Al-Shabaab, namun ada kekhawatiran bahwa mereka akan menyatukan diri lagi karena kurangnya kepemimpinan politik di Somalia.

"Perpecahan di kalangan pejabat tinggi pemerintah merupakan peluang bagi pasukan oposisi untuk bangkit kembali," kata Mayor Paddy Ankunda, juru bicara pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika AMISOM, kepada Reuters.

Dua prajurit penjaga perdamaian dan empat warga sipil tewas dalam 24 jam terakhir, kata beberapa pejabat.

Pasukan perdamaian yang mencakup 9.000 orang itu merupakan satu-satunya kekuatan yang mencegah kelompok gerilya Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaeda untuk menggulingkan pemerintah Somalia dukungan Barat yang mandatnya berakhir pada Agustus.

Ankunda mengatakan, 3.000 prajurit tambahan akan segera ditempatkan di Somalia.

Mereka akan menghadapi militan yang bertekad membalas kematian Osama bin Laden, pada suatu masa ketika para pemimpin Somalia terpecah perhatiannya karena perselisihan politik.

Presiden Sheikh Sharif Ahmed memperpanjang masa jabatannya, demikian juga parlemen, yang ketuanya, Sharif Hassan Sheikh Aden, berambisi menjadi presiden.

Pihak-pihak eksekutif dan legislatif tidak mengakui perpanjangan mandat masing-masing.

Al-Shabaab mengobarkan perang selama empat tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli lalu.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaeda.

Serangan-serangan bom pada 11 Juli itu dilakukan di sebuah restoran dan sebuah tempat minum yang ramai di Kampala ketika orang sedang menyaksikan siaran final Piala Dunia di Afrika Selatan.

Pemimpin Al-Shabaab telah memperingatkan dalam pesan terekam pada Juli bahwa Uganda akan menghadapi pembalasan karena peranannya dalam membantu pemerintah sementara Somalia yang didukung Barat.

Uganda adalah negara pertama yang menempatkan pasukan di Somalia pada awal 2007 untuk misi Uni Afrika yang bertujuan melindungi pemerintah sementara dari Al-Shabaab dan sekutu mereka yang berhaluan keras di negara Tanduk Afrika tersebut.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah. (M014/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011