counter

Penyebab pengembang game lokal belum kuasai pasar

Penyebab pengembang game lokal belum kuasai pasar

Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari saat pemaparan di CeBIT Australia 2018 di Sydney, Australia. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Jakarta (ANTARA News) - Badan Ekonomi Kreatif berpendapat pengembang game Indonesia memiliki daya saing jika dibandingkan dengan pengembang asal luar negeri.

"Problemnya sekarang apa yang dihasilkan sekolah ada jarak dengan kebutuhan industri," kata Deputi Infrastuktur Bekraf Hari Sungkari saat di acara Bekraf Game Prime 2018, Sabtu.

Diwawancara terpisah, Hari menyatakan kontribusi pengembang lokal terhadap industri game Indonesia hanya 5 persen pada 2017, jumlahnya turun dari 2016 yang sebesar 9,5 persen. Hal ini terjadi karena ukuran pasar membesar, namun, jumlah pengembang tidak bertambah.

Pada acara yang sama, Ketua Asosiasi Game Indonesia Narenda Wicaksono menyatakan dari segi kualitas, pengembang lokal memiliki kemampuan yang baik untuk bersaing.

"Secara jumlah kurang. Kita harus melakukan sesuatu di situ, harus diperbanyak," kata Narenda.

Untuk mendorong pertumbuhan pengembang game, Bekraf menggelar acara yang ditujukan untuk pengembang, yaitu Developer Day. Hari berharap dalam tiga tahun mendatang, kontribusi pengembang terhadap industri game dapat menjadi 10 persen.

Baca juga: Bekraf Game Prime 2018 ; apa kabar pengembang lokal?
Baca juga: Bekraf siap gelar hajatan game Bekraf Game Prime 2018Baca juga: Berkenalan dengan cabang olahraga baru Esports
Baca juga: Berkenalan dengan cabang olahraga baru Esports

 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sosialisasi Bekraf Festival ke kantor redaksi ANTARA

Komentar