"Bapak Catur Indonesia" Djamil Djamal Telah Tiada

Jakarta (ANTARA News) - Tokoh catur yang telah mengabdikan hidupnya hanya untuk catur semata, Djamil Djamal, meninggal dunia Selasa pagi (25/9) pukul 04.30 WIB di RS Mintoharjo, Benhil, Jakarta. Djamil meninggal dunia dalam usia 77 tahun, meninggalkan istri Sabariyah, enam anak (Dani Alfin, Syahjaya, Syahdana, Lisawati, Nursiwan, Syahjohan), 16 cucu dan seorang cicit. Sejak operasi ganglion sekitar sebulan lalu, kondisi fisik Djamil tampak sulit pulih karena beliau selalu merasa ada yang tidak beres di dalam tubuhnya, kata Humas PB Percasi, Kristianus Liem, dalam pernyataannya yang disampaikan kepada ANTARA, Rabu siang. Setelah beberapa kali keluar masuk rumah sakit akhirnya diketahui ada kanker pada ususnya. "Namun Pak Djamil sudah tidak mau dioperasi lagi hingga akhirnya meninggal dunia," kata Kristianus. Almarhum Djamil dikebumikan di Pemakaman Kampung Kandang, Jakarta Selatan, tidak jauh dari rumahnya di Jalan Sirsak, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jaksel, sekitar pukul 12.00 siang, dengan diantar oleh sanak saudara, anggota PB Percasi seperti Endang Sugiarto, Tjokorda TNA Yudha, Faisal Khatib, MF Sebastian Simanjutak, GM Edhi Handoko, MIW Lisa Lumogdong dan masyarakat catur Indonesia lainnya. Di depan rumahnya yang sederhana terpampang sejumlah karangan bunga yang dikirim antara lain oleh Ketua Umum PB Percasi, Eddie Widiono, Sekjen PB Percasi Harry Jaya Pahlawan, Pengprov Percasi Sumsel. Kristianus mengatakan ucapan belasungkawa juga membanjiri telepon selulernya, untuk minta diteruskan kepada keluarga Djamil, antara lain dari Pengprov Percasi Riau Ahmad Syah Harofie, dari Pengcap Percasi Tarakan Rusdyanto Rasyid dan banyak lainnya. Djamil Djamal lahir di Padang 16 Mei 1930. Mulanya beliau adalah pemain catur yang bergelar MN, kemudian menjadi wasit dengan gelar IA (International Arbiter). Selain itu beliau juga pernah menjadi instruktur catur dan penulis buku catur. Seri buku caturnya yang "best seller" adalah seri "Perangkap dan Muslihat Catur". (*)

COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar