counter

Pidato Kenegaraan

Ketua DPD: Liberalisasi dan Paham Radikal mengaburkan Pancasila

Ketua DPD: Liberalisasi dan Paham Radikal mengaburkan Pancasila

Presiden Joko Widodo (kelima kiri) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kelima kanan) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (keempat kanan) didampingi Ibu Mufidah Jusuf Kalla (ketiga kanan) berfoto bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan (keempat kiri) dan nyonya, Ketua DPR Bambang Soesatyo (kedua kanan) dan nyonya, Ketua DPD Oesman Sapta Odang (kedua kiri) dan nyonya, serta para Ketua MPR dan Ketua DPR dan nyonya, di tangga Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (16/8/2019). Presiden Joko Widodo akan mengikuti sidang tahunan dan menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan para anggota DPR. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama. (ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Oesman Sapta Odang mengatakan liberalisasi dan paham radikal merupakan tantangan berat bagi negara Republik Indonesia di era globalisasi karena telah mengaburkan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Atas nama kebebasan dan demokrasi, dua paham tersebut telah masuk ke masyarakat dengan mempertentangkan antara Pancasila dan Agama, kata Oesman Sapta Odang dalam sambutannya pada sidang bersama DPR dan DPD di Jakarta, Jumat.

"Pancasila sebagai solusi bijak yang telah menjadi konsensus final kita dalam bernegara telah dikaburkan oleh mereka. Sungguh ini merupakan tantangan besar buat kita semua," katanya.

Baca juga: DPD dukung pembangunan PLTN di Kalimantan Barat
Baca juga: DPD RI komit dukung rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan


Sungguh ini merupakan tantangan besar buat kita semua. Jika kita lengah, tidak mustahil Indonesia akan tereduksi. Namun kita harus selalu optimis.

Pancasila sebagai filsafat dalam bernegara harus terimplementasi secara terstruktur, sistematis, dan massif di semua lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan elit hingga masyarakat yang bersandal jepit. Mulai dari anak-anak dan remaja, hingga kalangan yang sudah dewasa, katanya.

Selain itu pembangunan karakter bangsa harus menjadi bagian dalam upaya peningkatan sumber daya manusia di Indonesia.

“Dunia pendidikan kita harus selalu melahirkan generasi yang berjiwa Indonesia, berjiwa Pancasila,” katanya.

Ia mengingatkan pesan dari Bung Karno yang mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Pesan itu juga mengingatkan tujuan dari pendiri bangsa, yakni Indonesia dibangun oleh satu untuk semua, semua untuk satu dan semua untuk semua.

Oso juga mengajak untuk mensyukuri, menjaga serta mengembangkan keberagaman itu.

“Mari kita syukuri keberagaman ini, mari kita jaga dan lestarikan keberagaman ini, mari kita kembangkan semua potensi ini,” kata dia.

Baca juga: Partisipasi pemilih tinggi, DPD RI apresiasi pemilu serentak

Pewarta: Nova Wahyudi
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hanura nilai pertemuan Mega Prabowo sebagai reuni dua sahabat lama

Komentar