counter

Tanggapi karhutla, mahasiswa Fisip Universitas Riau gelar demonstrasi

Tanggapi karhutla, mahasiswa Fisip Universitas Riau gelar demonstrasi

Ratusan mahasiswa Universitas Riau (UNRI) menggelar demonstrasi di Halaman Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, Rabu (12/9/2019). Mereka menuntut Gubernur Riau Syamsuar dan jajarannya lebih serius menangani masalah kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA/Vijay Kantaw)

Ini aksi desakan agar Gubernur Riau segera menuntaskan kasus karhutla yang tidak kunjung selesai, kita sudah capai, sudah banyak warga yang  terkena penyakit ISPA, asma, iritasi kulit dan mata serta jantung
Kota Pekanbaru (ANTARA) - Sekurangnya 100 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Riau menggelar aksi demonstrasi di Kantor Gubernur Riau, Kota Pekanbaru, Kamis,  terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kini makin parah.

"Ini aksi desakan agar Gubernur Riau segera menuntaskan kasus karhutla yang tidak kunjung selesai, kita sudah capai, sudah banyak warga yang  terkena penyakit ISPA, asma, iritasi kulit dan mata serta jantung," kata Annisa, perempuan mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis, Universitas Riau yang menjadi juru bicara dalam aksi itu.

Menurut dia aksi itu digelar berawal dari keresahan akibat permasalahan asap yang tidak kunjung selesai, serta menanggapi kasus 47 ribu masyarakat Riau yang sudah terkena Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akibat karhutla.

Ia mengatakan, aksi digelar setelah berkonsolidasi dengan pimpinan kelembagaan Fisip, Badan Eksekutif Mahasiswa Fisip, serta Badan Legislatif Mahasiswa (BLM)  hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi tunggal.

"Kami langsung bergerak, setelah 10 September 2019 berkonsolidasi, 11 September 2019 menggelar mimbar bebas, dan 12 September 2019 beraksi, sebab jika menunggu aksi BEM Universitas Riau yang bakal digelar pada 17 September 2019 mungkin terlalu lama," katanya.

Sebelumnya, BEM Universitas Riau memang sudah mencanangkan aksi "Karhutla Gerakan 17 September" 2019 yang dilatarbelakangi karena keberadaan Gubernur Riau kembali dari Thailand. Namun, kelembagaan Fisip menilai aksi itu justru terlalu lama.

"Kalau menunggu rencana BEM Unri pada 17 September itu lama, bisa jadi nanti asapnya sudah hilang, dan nanti lebih banyak korban, yang jelas bergerak dulu, dan aksi ini pun sudah mendapat dukungan dari kampus," kata Annisa.

Sementara itu Bupati Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Universitas Riau Mus'ab Akhyar mengatakan fakultas memberi dukungan mulai dari menyediakan fasilitas dua unit bus mengangkut massa hingga satu mobil komando.

"Dekan pun sudah mendukung hingga memberikan izin menggunakan fasilitas kampus," ujar Mus'ab.

Dalam aksi tersebut dua mahasiswi jatuh pingsan akibat asap yang semakin tebal, dan kondisi aksi yang dipenuhi mahasiswa padat sehingga sesak sehingga mereka tidak kuat.

 Selain itu, juga ada lima mahasiswa yang sakit.

Menurut Khaisar, mahasiswa Administrasi Bisnis 2017, di antara yang jatuh sakit ketika mengikuti aksi, yakni Ila, mahasiswa jurusan Pariwisata 2017 dan Nur Rofifah, mahasiswa baru jurusan Ilmu Pemerintahan yang pingsan dan kejang hingga terpaksa dirujuk ke rumah sakit terdekat. Padahal sebelumnya korban tidak memiliki riwayat penyakit.

Mahasiswa dalam aksi tersebut menuntut untuk langsung bertemu dengan Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution untuk membacakan serta membahas kondisi asap yang semakin membahayakan masyarakat Riau. 

Baca juga: Jarak pandang di Pekanbaru anjlok jadi 700 meter akibat kabut asap

Baca juga: Kabut asap Karhutla kian pekat, Gubernur Riau pilih tugas ke Thailand

Baca juga: Asap semakin pekat 4 mahasiswa UNRI dirawat ke RS

Baca juga: Guru Abdurrab Islamic School Pekanbaru kolaps akibat asap Karhutla

Pewarta: Frislidia
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

RS Pelni siaga terima korban ricuh demonstrasi

Komentar