Para pria maskulin di balik skincare "Maska"

Para pria maskulin di balik skincare "Maska"

Produk perawatan kulit yakni sheet mask dan tone up cream dari label "Maska" (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Jakarta (ANTARA) - Bukan para kaum hawa, tetapi pria berpenampilan maskulin, dengan kumis tipis, kedua lengan dipenuhi tato dan suara nge-bass yang menjadi salah satu inovator hadirnya produk perawatan kulit berlabel "Maska".

Banyu Raditya (28), adalah sosok yang dimaksud. Pria berambut sepundak itu begitu fasih memaparkan produk-produk hasil kreasinya bersama koleganya yang bertubuh tinggi semampai, Almas Hudiya (27).

"Brand 'Maska' ini fokus ke skincare. Kami fokus di bagaimana membuat level of experience yang berbeda, menawarkan produk natural ke next level," kata Banyu di sela penyelenggaraan Cosmo Beaute, Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu sore.

Pengetahuan soal produk perawatan kulit dan kecantikan mereka dapatkan dari pekerjaan sebelumnya di industri itu beberapa tahun lalu, walau mereka bertanggung jawab sebatas urusan branding dan displaying produk.

Bagi Banyu dan Almas, dunia kecantikan tak melulu milik kaum hawa. Para pria juga bisa ikut ambil bagian, apalagi jika itu bisa berdampak positif tak hanya bagi konsumen tetapi juga lingkungan sosial.

Perlahan, keduanya berinisiatif menjadi beautypreneur. Bermodalkan dana hampir Rp1 miliar, mereka menggandeng satu maklon kosmetik, PT Nose Herbalindo.

Baca juga: Natasha Rizki teliti sebelum beli lipstik

Baca juga: Tip cantik, sesuaikan pembersih wajah dengan tipe kosmetik

 
Chief Executive Officer label "Maska" Banyu Raditya (kanan) dan Chief Opeartion Officer "Maska" Almas Hudiya di Jakarta, Sabtu (19/10/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)


Saat ini baru ada tiga produk yang mereka perkenalkan khusus untuk para perempuan millenial yakni eyepatch hydrogel, gel khusus untuk membantu mencerahkan lingkaran hitam di bawah mata, lalu sheet mask dan tone up cream.

Ketiga produk ini menggunakan ekstraksi bahan-bahan alami seperti algae, air mawar dan bit. Kelebihannya, bukan hanya langsung mencerahkan tetapi akan berkelanjutan jika rutin dipakai, menurut Banyu dan Almas.

"Setahun riset untuk bahan baku. Pas keluarin produk pertama kali, kasih liat ke teman-teman mereka bilang, 'ih gila suka'. Sekarang ini fokus mendapatkan opini dari orang-orang," tutur Almas.

Harga masing-masing produk terbilang lumayan mahal ketimbang produk sejenis dari label berbeda. Eyepatch misalnya dibanderol Rp218 ribu, sheet mask Rp31 ribu-35 ribu, sementara tone up cream Rp25 ribu.

Dari sisi kemasan produk, ketiga produk ini cukup eye-cathing dengan warna-warna menyala yang menarik perhatian. Eyepatch yang mereka tawarkan misalnya, juga relatif unik. Bentuk gel produk menyesuaikan bentuk kantong mata.
 
Eyepatch label "Maska" (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)



Tahun 2020 label "Maska" yang artinya figur wanita dalam bahasa Polandia itu baru akan secara resmi meluncurkan 12 produknya secara online, termasuk tiga produk yang sudah mereka perkenalkan.

Selain itu, label ini juga berencana memperkenalkan produk perawatan kulit versi pria dan menyasar mereka yang sudah berusia matang atau "mature".

Dalam kesempatan itu, Direktur PT Nose Herbalindo, Yoda Nova mengakui konsep yang Banyu dan Almas tawarkan "berbeda" dari kebanyakan. Selain memikirkan masalah lingkungan (eco-friendly), produk yang mereka tawarkan juga mengikuti tren saat ini terutama dari sisi kemasan.

"Indonesia kan sekarang mulai fokus ke eco-friendly. Konsep mereka juga beda, fleksibel packaging, saya ikuti tren," kata dia.

Baca juga: Ini tahapan membuat merek kosmetik sendiri

Baca juga: Pameran kosmetik Korsel dimulai di Dubai pekan ini

Baca juga: BPOM sebut temuan kosmetik ilegal capai Rp31 miliar

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar