Saham Korsel jatuh ke terendah dalam 10 tahun terakhir

Saham Korsel jatuh ke terendah dalam 10 tahun terakhir

Seorang jurnalis berjalan melewati papan elektronik Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) di Bursa Korea (KRX) di Seoul, Korea Selatan. ANTARA/REUTERS /Kim Hong-Ji/am.

Seoul (ANTARA) - Bursa saham Korea Selatan anjlok pada perdagangan Rabu, di tengah kekhawatiran bahwa wabah COVID-19 di seluruh dunia dapat mendorong ekonomi global ke dalam resesi.

Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) anjlok 81,24 poin atau 4,86 ​​persen, menjadi 1.591,20 poin, penutupan terendah dalam hampir 10 tahun sejak Mei 2010 dengan volume transaksi mencapai 714 juta saham senilai 9,4 triliun won (7,5 miliar dolar AS).

Kegelisahan atas penyebaran virus corona ke Eropa dan Amerika Serikat memicu sentimen risk-off (penghindaran risiko) meskipun ada paket stimulus dan kebijakan moneter yang akomodatif dari negara-negara besar.

Federal Reserve AS memotong suku bunga acuannya dengan persentase poin penuh ke kisaran antara nol hingga 0,25 persen pada Minggu (15/3), berjanji untuk membeli 700 miliar dolar obligasi pemerintah dan hipotek.

Bank sentral Korea (BOK) memangkas suku bunga acuannya setengah poin persentase ke level terendah sepanjang masa, 0,75 persen pada Senin (16/3) dalam langkah darurat pertamanya sejak krisis keuangan global 2008.

Parlemen Korea Selatan meloloskan RUU anggaran tambahan senilai 11,7 triliun won (9,4 miliar dolar AS) pada Selasa (17/3), untuk melawan dampak ekonomi dari wabah virus.

Jumlah pasien yang terinfeksi di Korea Selatan mencapai 8.400, tetapi beban kasus harian telah stabil dalam beberapa hari terakhir.

Pengamat pasar saham mengatakan meningkatnya jumlah kasus COVID-19 di Eropa dan Amerika Serikat memicu ketakutan akan kemerosotan ekonomi global terutama di kalangan investor asing di pasar saham lokal.

Orang asing membuang saham domestik untuk sesi ke-10 berturut-turut, sementara lembaga keuangan lokal bergabung dalam aksi jual.

Mata uang lokal terdepresiasi terhadap dolar AS karena saham lokal terus merosot tajam. Nilai tukar won/dolar naik 2,2 won menjadi berakhir pada 1.245,7 won per dolar AS, tertinggi dalam hampir 10 tahun sejak Juni 2010.

Harga obligasi berakhir lebih rendah karena orang asing mengurangi kepemilikan aset pasar negara berkembang. Imbal hasil surat berharga periode tiga tahun yang likuid menambah 2,0 basis poin menjadi 1,050 persen, dan imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun naik 6,1 basis poin menjadi 1,502 persen.

Baca juga: Saham Korea Selatan jatuh dipicu ketakutan terhadap COVID-19
Baca juga: Bursa saham Seoul berakhir jatuh 2,78 persen
Baca juga: Dibayangi sengketa dagang, indeks saham Korsel jatuh beruntun 6 hari

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar