Singapura (ANTARA News) - Soal makan dan minum ternyata sebuah bisnis yang serius dan bisa meraup keuntungan besar dari penjualan yang setara jumlah APBN nasional sekitar Rp1.037 triliun per tahunnya.

Tidak percaya? Tanyalah Paul Bulcke, CEO Nestle, perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia yang bermarkas di Swiss dan sedang melakukan ekspansi bisnis ke kawasan Asia Tenggara.

"Ini bisnis yang serius. Kami melihat pasar yang masih terbuka luas. Perusahaan kami mencatat pertumbuhan 15 persen di kawasan Asia Tenggara tahun lalu," katanya saat bertemu dengan wartawan ASEAN di Singapura, akhir pekan lalu (13/6).

Dengan populasi penduduk hampir 600 juta jiwa, kawasan Asia Tenggara merupakan peluang pasar yang menggiurkan bagi Nestle yang dikenal sebagai perusahaan terdepan dalam bidang usaha nutrisi, kesehatan dan keafiatan.

Perusahaan yang mempunyai tagline Good Food, Good Life yang bermarkas di Swiss itu sudah berkiprah selama lebih 140 tahun. Bulcke tahu persis sejarah perusahaan yang memiliki 280.000 karyawan dan 456 pabrik di 84 negara itu. Ia juga tahu persis akan dibawa kemana perusahaan yang angka penjualan tahun 2008 saja mencapai CHF 109,9 miliar (sekitar Rp1000 triliun), atau kurang lebih sama dengan APBN Indonesia setiap tahunnya.

"Jika kita bicara mengenai nutrisi 100 tahun lalu, itu adalah bagaimana memberi makan orang asal kenyang. Namun jika kita bicara nutrisi sekarang, adalah bagaimana memberi makan orang dengan rasa yang lezat namun rendah kalori," kata Bulcke yang diangkat menjadi CEO Nestle bulan April 2008 lalu.

Pada tahun 1866, Henri Nestle, seorang ahli farmasi asli Jerman, mengembangkan sereal bayi berbasis susu yang berhasil membantu mengatasi masalah kekurangan nutrisi pada bayi saat itu. Henri Nestle menggabungkan pengetahuan, ketrampilan dan penelitian yang pernah dilakukan dalam mengembangkan "formula ajaib" tersebut yang kemudian diberi nama Farine Lactee Henri Nestle, dan terbukti mampu menyelamatkan jiwa banyak bayi.

Farine Lactee, menurut Presiden Direktur Nestle Indonesia Peter Vogt, diekspor ke kepulauan Nusantara sejak tahun 1873. Beberapa tahun kemudian, para pedagang mendatangkan produk susu kental manis MILKMAID, yang kemudian populer dengan merek "Tjap Nona". Empat puluh tahun kemudian susu bubuk kian populer di Indonesia dan Nestle DANCOW memimpin pasar.

Terbesar di dunia

Begitulah. Dari produsen sereal bayi berbasis susu, kini Nestle berkembang menjadi produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang penjualannya melebihi perusahaan kompetitornya, seperti PepsiCo, Kraft Foods, Unilever, Coca Cola, Kellogg's dan Sara Lee.

Nestle kini memiliki 10.000 produk makanan dan minuman yang sangat dikenal di seluruh penjuru dunia, dikonsumsi setiap saat sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Konsumennya dari bayi dalam kandungan, anak-anak sampai orang dewasa, kakek dan nenek.

Produk Nestle mulai dari susu bubuk, kopi, coklat dan kembang gula, bumbu masak dan hidangan siap saji, sampai dengan makanan hewan.

"Kami menjual 1 miliar produk setiap harinya," kata Bulcke di Pusat Riset dan Pengembangan (R&D) Produk Nestle di Singapura.

R&D di Singapura merupakan salah satu dari 23 Pusat Riset dan Pengembangan Nestle yang tersebar di seluruh dunia. Riset dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang bukan saja menginginkan nutrisi yang enak dan lezat, tapi juga sehat wal afiat.

Moto Good Food, Good Life, misalnya, menggambarkan komitmen Nestle untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketenaran merek-merek produknya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan dan minuman yang berkualitas, bernutrisi, aman untuk dikonsumsi, serta lezat rasanya, dalam upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Sebagai contoh, riset terus menerus dilakukan untuk membuat mie instan yang digemari di kawasan Asia berkurang kadar garamnya dan makin rendah kalorinya agar konsumen tidak perlu takut kegemukan.

Cita rasa lokal

Disamping itu, riset juga dilakukan agar produk Nestle bisa memenuhi kebutuhan dan cita rasa penduduk lokal. Berlainan dengan Coca Cola yang dimanapun rasanya nyaris tidak berbeda, kopi produksi Nestle yang dinamakan Nescafe rasanya disesuaikan dengan selera lokal. Ada lebih 200 jenis Nescafe yang berbeda cita rasanya karena disesuaikan dengan konsumen di Polandia, Rusia, Jepang, dan Indonesia.

"Kami punya produk Nescafe Kopi Susu Tubruk yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Kopi tubruk amat disukai orang kita," kata Brata T. Hardjosubroto, Head of PR Nestle Indonesia.

Setelah diperkenalkan di Swiss tahun 1938, Nescafe menjadi kian populer pada Perang Dunia kedua sebagai salah satu pilihan kopi di Eropa. Setelah beberapa tahun diekspor ke Indonesia, Nescafe mulai diproduksi di Lampung sejak 1980 dengan menggunakan bahan baku biji kopi yang dihasilkan para petani setempat.

Dengan jangkauan operasi hampir di seluruh negara di dunia dan meningkatnya jumlah kelas menengah, Bulcke melihat pertumbuhan pasar bagi Nestle masih sangat terbuka lebar.

Meskipun Nestle merupakakan perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia, sesungguhnya hanya menguasai 1,7 persen dari pasar dunia. Sementara 20 perusahaan nutrisi papan atas dunia digabung sekalipun hanya bisa menguasai 9 persen dari pasar dunia.

Kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu pasar potensial perusahaan berlambang burung yang sedang memberi makan anaknya di dalam sarang itu. Dalam jumpa pers tersebut, Bulcke menekankan bahwa "Nestle telah beroperasi di bagian dunia ini selama hampir 100 tahun. Kawasan ASEAN adalah bagian yang sangat penting dalam bisnis Nestle, dan komitmen kami yang terus berlanjut serta investasi yang tengah berjalan menunjukkan keyakinan kami pada kawasan ini."

Saat ini Nestle memiliki 23 pabrik dan sekitar 14.500 tenaga kerja di pasar ASEAN. Nestle akan melanjutkan investasinya di ASEAN untuk memperluas bisnis dan fasilitas pabrik, termasuk di Indonesia untuk mendukung perluasan pabrik susu Kejayan di Jawa Timur.

Perusahaan itu memiliki komitmen lebih dari 250 juta CHF investasi modal untuk operasinya di ASEAN pada 2009. Pada 2008, bisnis Nestle di kawasan ini menunjukkan pertumbuhan nyata 15 persen dan penjualan sekitar 5 miliar CHF.

Di Indonesia, Nestle telah menginvestasikan lebih dari 100 juta dolar AS yang merupakan nilai penanaman modal terbesar ketiga Nestle di dunia. Perusahaan itu akan menginvestasikan 29 juta CHF dana pada tahun 2009, yang mendukung perluasan pabrik susu Kejayan di Jawa Timur, untuk memenuhi meningkatnya permintaan.

Setelah berakhirnya proyek ini, pabrik di Kejayan akan menjadi satu dari 10 pabrik pemrosesan susu terbesar Nestle di dunia. Bukan hanya 28.000 peternak sapi perah di Jawa Timur yang diuntungkan dari proyek ini, tapi juga seluruh masyarakat.

Anak-anak Indonesia bisa minum susu dengan harga yang terjangkau. Mereka bisa tumbuh sehat dan cerdas serta menjadi generasi penerus yang lebih kuat dan bisa diandalkan. (*)

Oleh oleh Akhmad Kusaeni
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009