Anti Hoax

Vaksin tidak buat tubuh kebal COVID-19? Ini faktanya!

Vaksin tidak buat tubuh kebal COVID-19? Ini faktanya!

Atlet bulu tangkis ganda putra Muhammad Rian Ardianto saat akan disuntik vaksin COVID-19 di Istora Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Jumat (26/2/2021). ANTARA/Dok-PP PBSI/am.

Jakarta (ANTARA/JACX) - Sebuah pesan berantai dengan topik "12 Pertanyaan dan Jawaban Penting Sebelum Divaksinasi" telah tersebar luas di sejumlah jejaring media sosial serta aplikasi berbagi pesan WhatsApp.

Andrew Lee, seseorang yang diklaim sebagai warga Singapura, membagikan pendapatnya tentang program vaksinasi dalam narasi berbentuk tanya-jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah soal kekebalan tubuh setelah divaksin COVID-19.

Berikut potongan narasi yang beredar dan telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia:

"Jika saya divaksinasi, apakah saya akan kebal terhadap Covid?"

Pemerintah: "Mungkin. Kami tidak tahu persis, tapi mungkin tidak."

Namun, benarkah vaksin tidak buat tubuh kebal COVID-19?
 
Tangkapan layar hoaks 12 pertanyaan dan jawaban sebelum divaksin COVID-19. (Turnbackhoax.com)


Penjelasan:
Penelusuran ANTARA membuktikan bahwa narasi Andrew Lee itu SALAH. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menjelaskan vaksin COVID-19 ampuh melindungi tubuh dari paparan virus corona jenis baru tersebut.

"Vaksinasi COVID-19 bekerja dengan mengajarkan sistem kekebalan Anda untuk mengenali dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19, dan (vaksin) ini melindungi Anda dari COVID-19," mengacu laman resmi CDC.

Menurut PublicHealth, vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan mengenali dan memerangi patogen (virus maupun bakteri). 

Untuk melatih kekebalan ini, molekul tertentu dari patogen, yakni antigen, harus dimasukkan ke dalam tubuh guna memicu respons imun.

Dengan menyuntikkan antigen ke dalam tubuh, sistem kekebalan  belajar mengenali virus sebagai musuh, memproduksi antibodi, dan mengingatnya untuk masa depan. 

Jika bakteri atau virus muncul kembali, antibodi akan segera mengenali antigen dan menyerang secara agresif sebelum patogen dapat menyebar dan menyebabkan penyakit.

CDC menambahkan vaksin COVID-19 membuat tubuh memiliki persediaan limfosit T "memori" serta limfosit B, yang akan mengingat cara melawan virus itu pada masa depan.

Biasanya, dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk memproduksi limfosit-T dan limfosit-B setelah vaksinasi. 

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia menuturkan vaksinasi COVID-19 membutuhkan dua kali dosis penyuntikan dalam rentang 14 hari-28 hari, karena imun perlu waktu untuk dapat terbentuk, mengacu Kontan.

Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komnas KIPI) Prof dr Hindra Irawan Satari juga menerangkan belum ada antibodi yang terbentuk usai suntikan pertama vaksinasi. Kalau pun sudah terbentuk, masih pada tingkat sangat rendah.

Kekebalan vaksinasi baru terbentuk setelah dua minggu atau 28 hari usai suntikan kedua.

Oleh karena itu, Hindra menegaskan wajib bagi masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin, untuk tetap displin dalam melaksanakan protokol kesehatan.

Klaim: Vaksin tidak buat tubuh kebal COVID-19
Rating: Salah/Misinformasi
 
Penjelasan CDC soal vaksin COVID-19. (cdc.org)


Baca juga: Hoaks! Pemerintah tidak sediakan kompensasi saat vaksinasi gagal

Baca juga: Puluhan wartawan terkapar usai vaksinasi hoaks

Pewarta: Tim JACX
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Hoaks atau Benar - Rizieq Shihab dapat penghargaan di Malaysia? Vaksinasi mandiri di Jatim bayar 600 ribu?

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar