Bandung (ANTARA News) - Industri tekstil dan mainan menjadi sektor yang paling terkena dampak pakta perdagangan bebas ASEAN-China Free Trade Agreement:(ACFTA) yang diberlakukan hampir setahun berjalan.

"Dampak ACFTA tidak sebesar yang dikuatirkan di awal, namun memang dampaknya sangat terasa dan cukup menekan bagi sektor industri tekstil dan mainan. Dampaknya sangat terasa bagi kedua sektor itu," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar, Deddy Wijaya di Bandung, Selasa.

Deddy menyebutkan, serbuan produk China untuk produk tekstil dan mainan anak-anak cukup deras membanjiri pasar Indonesia.

Bahkan sebagian produk negeri "Tirai Bambu" itu masuk ke Indonesia melalui jalur ilegal dan sulit dicegah. Akibar serbuan luar biasa produk tekstil dan mainan itu, produk dalam negeri kalah bersaing.

Produk China itu berharga lebih murah dan cepat menembus pasar karena memiliki jaringan yang cukup kuat dan luas.

"Tekstil dan mainan China sudah membanjiri pasar di Indonesia, kedua sektor itu makin mendominasi setelah ACFTA. Sedangkan sektor lainnya seperti elektronik, otomotif dan lainnya relatif produk kita bersaing bahkan lebih unggul," kata Deddy.

Ia menyebutkan, secara umum hasil evaluasi dari Apindo, dampak ACFTA sejak setahun berjalan memang berdampak terhadap sekitar 50 persen Industri di Indonesia, khususnya di Jawa Barat.

"Dampaknya tidak seperti yang dibayangkan, tutupnya industri kita. Ternyata masih bersaing dan bahkan bisa mendapatkan peluang pasar. Namun memang 50 persen industri kita terkena dampaknya, namun tidak sampai ada yang gulung tikar seperti yang kita kuatirkan," kata Deddy Widjaya.

Meski demikian, ia berharap industri di Jawa Barat untuk melakukan adaptasi pasar serta langkah-langkah pemasaran maupun produksi yang baik sehingga bisa tetap eksis dan berdaya saing.

"Efesiensi produksi salah satu kuncinya agat tetap bersaing di dalam ACFTA. Industri yang terkena imbas itu biasanya mereka yang tidak mampu melakukan efesiensi produksi," katanya.

Dipihak lain, ACFTA telah membuka peluang bagi masuknya investasi dari China ke Indonesia, khususnya ke wilayah Jawa Barat. Sejumlah industri China merencanakan relokasi industrinya dari China ke wilayah Karawang dan Bekasi Jawa Barat.

"Produksi mereka sulit menembus pasar AS, sehingga mereka merelokasi industrinya ke sini untuk bisa bersaing dan masuk ke pasar AS," kata Deddy.

Sejumlah relokasi produk China antara lain komponen otomotif dan elektronik. Iklim investasi di Jawa terus membaik sehingga diharapkan di tahun-tahun mendatang lebih banyak lagi investor yang masuk.

"Iklim investasi terus membaik, diharapkan daya beli masyarakat juga meningkat. Masalahnya saat ini daya beli masyarakat cenderung stagnan, dan terancam bila pemerintah memberlakukan penggunaan non subsidi BBM di awal 2011," kata Ketua Apindo Jabar itu menambahkan.(*)

S033/Y003

Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010