Bandung (ANTARANews) - Produsen lokal harus mewaspadai dan mengantisipasi impor mebel dari berbagai negara terutama China, bila tidak ingin pasar domestik dikuasai produk asing.

"Saat ini mebel impor masuk ke semua tingkat mulai kelas atas sampai kelas bawah," kata Sekjen Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur, di Bandung, Jawa Barat, Kamis.

Di sela-sela diskusi dengan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Infrastruktur dan Inovasi Rachmat Gobel dan JETRO, Sobur mengatakan di kelas atas mebel impor masuk melalui sejumlah merek terkemuka seperti Davinci dan Celini.

Kemudian di kelas menengah bawah, lanjut dia, sejumlah departement store furniture terkemuka seperti Informa dan Index memasarkan produk impor terutama dari China.

"Bahkan dalam waktu dekat, Ikea dengan kekuatan desain dan kenyamanan tokonya akan masuk ke pasar mebel kita yang sebagian besar merupakan produk impor," ujar Sobur.

Diakuinya hal itu menjadi tantangan besar bagi industri mebel nasional untuk bersaing di pasar domestik yang nilai pasarnya mencapai sekitar tiga miliar dolar AS tahun lalu.

"Jadi kondisi pasar domestik sebenarnya lebih besar dari ekspor mebel kita yang hanya sekitar 1,8 miliar dolar AS tahun lalu," kata dia.

Menanggapi hal itu, Rachmat Gobel yang juga anggota Komite Inovasi Nasional (KIN) menilai para produsen mebel perlu membentuk konsorsium untuk membuat trading house merebut pasar lokal yang lebih besar, mengimbangi kekuatan ritel asing.

"Trading house itu penting, tidak hanya untuk pemasaran, tapi juga sebagai penjamin pasokan bahan baku, dan masalah finansial," katanya.

Ia menilai mebel dan kerajinan merupakan salah satu produk industri kreatif yang perlu terus melakukan inovasi dan perlu didukung oleh kebijakan pemerintah yang jelas visinya dan konsisten.

"Apalagi industri mebel juga merupakan industri padat karya dan berbasis sumber daya alam lokal," kata Rachmat.

Oleh karena itu, ia mengharapkan pemerintah baru nanti mendorong tumbuhnya industri mebel yang saat ini ekspornya tengah tumbuh, meskipun nilai ekspor tersebut masih kalah dibanding Vietnam dan Malaysia.

Pada 2013 ekspor Vietnam mencapai 4,3 miliar dolar AS dan Malaysia mencapai 2,4 miliar dolar AS, sedangkan Indonesia hanya mencapai 1,8 miliar dolar AS.


Pewarta: Risbiani Fardaniah
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014