Artikel

Memang tersingkir, tapi Hend Zaza telah menginspirasi kaum muda

Oleh Jafar M Sidik

Memang tersingkir, tapi Hend Zaza telah menginspirasi kaum muda

Petenis meja Suriah Hend Zaza bersiap serve saat melawan atlet Austria Liu Jia dalam babak penyisihan tunggal putri tenis mejad di Tokyo Metropolitan Gymnasium dalam Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo pada 24 Juli 2021. ANTARA/AFP/Anne Christine Poujoulat.

Jakarta (ANTARA) - Sehari sebelum memulai petualangan dalam tunggal putri tenis meja melawan Hend Zaza yang masih berusia 12 tahun, atlet tenis meja Austria yang berusia 39 tahun, Liu Jia, mengaku sulit tidur.

Liu Jia lalu menghubungi anaknya yang baru berusia 10 tahun malam itu.

"Tahu enggak ibumu ini akan bertanding melawan orang yang usianya dua tahun lebih tua dari kamu?" tanya Liu Jia kepada putrinya itu.

"Ya ibu jangan sampai kalah," jawab si anak.

Jia langsung menimpali sang putri, "Jangan membuatku tertekan!"

Jia sudah lima kali mengikuti Olimpiade dan menjadi juara Eropa pada 2005 atau empat tahun sebelum Zaza lahir.

Untunglah Jia memupus mimpi buruk dipermalukan si bocah bau kencur. Jia menang straight set 11-4, 11-9, 11-3, 11-5.

Tetapi Jia seperti tidak terlalu bangga atas kemenangan ini. Dia malah menyanjung Zaza.

"Ada orang yang harus menghadapi kesulitan. Mereka ini luar biasa, sungguh tak mudah bagi mereka. Dia juga masih kecil, mengikuti Olimpiade pada usia 12 tahun, dalam hatiku, saya sungguh mengagumi dia," kata Jia seperti dikutip Reuters.

Hari-hari Olimpiade, apalagi hari pertama dan terlebih medali emas pertama entah untuk Olimpiade itu atau medali pertama untuk negara asal Olimpian, selalu istimewa.

Baca juga: China raih emas pertama Olimpiade Tokyo

Dalam Olimpiade Tokyo 2020 ini medali emas pertama tersebut disabet petembak putri China, Qian Yang. Atlet berusia 21 tahun itu menjadi kampiun dalam 10 meter air riffle putri.

Sementara bagi Indonesia, hari istimewa itu hadir manakala lifter Windy Cantika Aisah menyumbangkan medali pertama bagi negaranya dari Olimpiade ini setelah dikalungi medali perunggu dari kelas 49 kg putri.

Namun tak cuma Yang dan Windy bagi Indonesia, yang menjadi sorotan pertama dalam Olimpiade ini. Hend Zaza si bocah ajaib dari Suriah juga mencuri perhatian, walau dia langsung tersungkur pada kesempatan pertamanya.

Adalah cara dia melewati jalan mencapai Olimpiade dan karena tempat dia bermuasal yang membuat dia menjadi terlihat istimewa dalam Olimpiade pertama dalam sejarah yang dimundurkan satu tahun ini. Usianya yang masih sangat belia, kian menebalkan bobot istimewa itu.

Baca juga: Langkah atlet usia 12 tahun, termuda di Olimpiade Tokyo terhenti

Selanjutnya jadi pencapaian

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

KONI: PON XX Papua berkaca pada Olimpiade Tokyo 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar