Rabu, 17 September 2014

Hikayat "Batu Nabontar" diangkat ke layar kaca

Sabtu, 19 Mei 2012 23:40 WIB | 5.589 Views
Laguboti, Sumut (ANTARA News) - Hikayat "Batu Nabontar" dalam waktu dekat akan diangkat ke layar kaca.

Hikayat ini mengisahkan seorang putri yang dijodohkan orangtuanya, namun tenggelam ke Danau Toba merupakan kisah nyata di Desa Simaremarejae Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir.

"Sebuah stasiun televisi swasta sedang mempersiapkan penggarapan cerita rakyat yang terjadi sekitar tahun 1800 itu dalam bentuk sinetron dengan lokasi shoting di tempat peristiwa kejadian sebenarnya," kata penulis cerita Parlindungan Naipospos di Laguboti, Sumatera Utara, Sabtu.

Menurut dia, proses produksi sudah hampir rampung. Hikayat ini mengisahkan keluarga Sodungdungon Hutajulu sebagai keturunan Raja Partambus mempunyai seorang putri cantik bernama Katarina, yang kemudian dijodohkan dengan pemuda marga Butarbutar.

Tapi, dikisahkan bahwa perjodohan tidak sempat terlaksana, karena selain memiliki aura kecantikan luar biasa, "Siboru Katarina" mengidap penyakit kulit di bagian kakinya, sehingga selalu ditutupi dengan kebiasaannya memakai kain sarung setiap hari, namun budi pekertinya sangat baik, membuat dia tetap menjadi idola bagi semua orang.

Katarina remaja, kata Parlindungan, berhati emas dan sangat patuh kepada orang tua (Donda marpangalaho, burju marnatuatua) sehingga semua orang memujinya dan ingin mengangkat menjadi menantu.

Sodungdungon sangat membatasi pergaulan putrinya karena takut menjadi incaran tentara Belanda, sehingga selalu didampingi ibunya menangkap ikan ke danau, sementara kehidupan keluarganya mulai terhimpit, ditambah peraturan yang mengharuskan pribumi membayar pajak (blasting) terhadap pemerintah kolonial.

Ternyata, pemuda marga Butarbutar yang dijodohkan juga memiliki penyakit kulit serupa, membuat Siboru Katarina kecewa, sehingga dia pun lari ke tepi pantai Lumbanbinanga sambil membawa pinggan pasu (piring besar) dan menceburkan diri ke danau.

Konon, "Siboru Katarina" duduk di atas piring hingga tenggelam dan tempat tersebut dinamai "Batu Nabontar" (Batu Putih).

Menurut dia, film ini sarat pesan moral yang menyampaikan pentingnya menjaga tata krama serta senantiasa menunjukkan rasa hormat terhadap orang tua.

Sampai sekarang, tempat itu sangat terpelihara kebersihannya dan tetap dijaga kesuciannya, tidak boleh bicara sembarangan karena dianggap sakral serta masih ada nelayan meyakini akan mendapat hasil tangkapan besar jika mereka bermohon di Batu Nabontar dengan memanggil Siboru Katarina dengan sebutan "Namboru" (bibi).

"Keturunan Raja Partambus Hutajulu, hingga saat ini masih banyak yang berdomisili di Desa Lumban Bagasan Kecamatan Laguboti," ujar Parlindungan.
(KR-JRD/S023)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca