Rabu, 30 Juli 2014

Pasar penerbangan ASEAN menjanjikan untuk disatukan

Kamis, 31 Mei 2012 17:45 WIB | 7.358 Views
Pasar penerbangan ASEAN menjanjikan untuk disatukan
Air Asia menggunakan pesawat berbadan lebar Airbus A-320 untuk mendorong peningkatan arus barang dan orang dari Bandung maupun dari Kuala Lumpur setrta Singapura. Rute titik ke titik menyederhanakan struktur pembiayaan dan mendorong komunikasi antar warga di antara negara ASEAN. (FOTO ANTARA/Saptono)

Jakarta (ANTARA News) - Total populasi negara ASEAN lebih dari 500 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sekitar 6,2 persen setahun. Jelas sangat menjanjikan untuk digeluti secara lebih serius oleh industri penerbangan regional, terkhusus penerbangan berbiaya rendah (LCC - low cost carrier atau budget airlines)


Lion Air dari Indonesia sebagai contoh, membelanjakan lebih dari 21,7 miliar dolar Amerika Serikat membeli 201 Boeing B-737 MAX dan Boeing B-737 900 NG pada 18 November 2011, di Bali, dengan saksi Presiden Barack Obama. Sebelumnya, 178 Boeing B-737-900 ER telah dibeli Lion Air; yang secara keseluruhan menyelamatkan Boeing dari krisis finansial serius.


Maskapai LCC berlambang singa dari samping ini mencerminkan kekuatan pasar Indonesia yang menerbangkan 70 juta orang pada 2011 dengan lebih dari 50 persen memakai LCC dari berbagai maskapai. Di sisi lain, penduduk Indonesia saat ini 235 juta jiwa yang berarti baru sepertiganya pernah menikmati jasa penerbangan.


Pesaing dari Malaysia, Air Asia, mendahului dengan mengelontorkan dana 18,2 miliar dolar AS untuk mengakuisisi 200 Airbus A-320 Neo, di Paris Air Show 2011. Dari markas besarnya di Kuala Lumpur, jurus-jurus penggaet keuntungan tanpa mengorbankan prinsip keselamatan penerbangan dilancarkan.


Dalam satu penelusuran, diketahui LCC itu menerapkan kebijakan manajemen operasional yang sangat ketat. Cenderung menempati terminal berbiaya rendah dengan tingkat representasi tertentu, memakai satu tipe pesawat terbang atau maksimal dua guna menghemat biaya perawatan dan pemeliharaan, metode penerbangan yang disempurnakan, sampai meniadakan layanan makanan di kabin.


Menurut satu studi penerbangan oleh Sekretariat Jenderal ASEAN pada 2009, dinyatakan LCC di ASEAN menjadi satu pilar penting industri penerbangan regional. Saat itu sudah dinyatakan, LCC beroperasi dari titik ke titik; bukan bersandar prinsip hub and spoke sebagaimana dilakukan maskapai berlayanan penuh.


Ini menjadikan biaya operasi berkurang signifikan. Masih ditambah banyak lagi cara, di antaranya menyederhanakan dan melangsungkan jaringan reservasi berbasis internet. Harga yang dibayar memang murah bagi pemakai jasa dengan mengorbankan ekspektasi layanan.


Kembali ke pasar ASEAN sebanyak 500-an juta jiwa. Beberapa petinggi LCC --sebagaimana ekskutif penerbangan berlayanan penuh lain di regional ini-- sangat yakin bahwa persaingan antar kawasan akan makin sengit.


China, sebagai contoh, sulit ditundukkan jika maskapai penerbangan berjalan sendiri-sendiri karena daya penetrasinya yang besar. Makin kuat lagi saat industri pesawat terbangnya mampu memproduksi sendiri jet komersial berkapasitas 150-200 tempat duduk. Ditunjang perundangan yang mengatur penerbangan komersial internasional dari dan menuju negara Tirai Bambu itu, celah-celah kerja sama harus digali secara cerdas.


Jadi regional ASEAN harus padu. Toch besaran jumlah penduduk itu sendiri bisa menjadi sumber rejeki yang bisa menjadi sumber kemakmuran regional itu sendiri. Air Asia , Lion Air, dan lain-lain memiliki pengertian sendiri soal ini.


Masih belum resmi, tetapi satu situs menyatakan Air Asia yang selama ini dikenal merupakan brand penerbangan dari Malaysia, berniat mengubah citra itu menjadi "penerbangannya ASEAN". Dia akan mengembangkan diri dan memperluas jangkauan dari titik ke titik di seluruh negara anggota ASEAN.


Visi itu berangkat dari Visi 2020 yang menghendaki terdapat penerbangan Air Asia di tiap negara anggota ASEAN sebagai bagian kontribusi mereka terhadap kemajuan regional itu. Jika regional itu maju maka maskapai penerbangan bisa maju, vice versa. (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga