Jumat, 19 Desember 2014

Uang masuk ke rekening DW capai Rp14 miliar

| 2.506 Views
id rekening dw, uang masuk rekening dw, kasus rekening gendut, dhana widyatmika, berkas perkara DW, rekening gendut PNS, sidang kasus dw, rekening gendut
Uang masuk ke rekening DW capai Rp14 miliar
Mantan pegawai Ditjen Pajak, Dhana Widyatmika (tengah), dikawal petugas ketika memasuki ruang sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (2/7). (ANTARA/Andika Wahyu)
Jakarta (ANTARA News) - Nilai uang yang masuk ke rekening mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak, Dhana Widyatmika (DW), pada periode November 2011 hingga Februari 2012 mencapai sekitar Rp14 miliar.

"Jumlah keseluruhan uang yang masuk adalah Rp11,41 miliar dan 302 ribu dolar AS mulai November 2010 sampai Februari 2012," kata Jaksa Penuntut Umum Wismantanu pada sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin.

Menurut jaksa, transaksi tersebut dilakukan secara bertahap ke berbagai rekening DW di beberapa bank seperti Bank CIMB Niaga cabang Jakarta private banking, Bank HSBC cabang Jakarta Kelapa Gading, Standard Chartered Bank, Bank Mandiri cabang Jakarta Imam Bonjol, Bank CIMB Niaga Jakarta Sudirman dan Bank BCA Jakarta Kalimalang.

Jaksa menyatakan, untuk menyembunyikan hartanya DW membelanjakan uang tersebut untuk membeli 1100 gram logam mulia jenis fine gold, 11 unit tanah dan properti, mata uang asing, jam tangan serta 16 kendaraan bermotor yang seolah-olah barang dagangan PT Mitra Modern Mobilindo 88.

Di luar rekening tersebut, DW, yang berusia 38 tahun, juga memiliki gaji sebagai komisaris PT Mitra Modern Mobilindo sekitar Rp10 juta per bulan sejak 2006 hingga Februari 2012.

Ia juga mendapat pemasukan dari usaha peternakan ayam sejak Agustus 2009-Februari 2012 dengan keuntungan seluruhnya Rp104,7 juta dan pendapatan dari usaha minimarket Betamart yaitu Rp7 juta - Rp10 juta per bulan.

Sedangkan total gaji yang dibawa pulang DW sebagai PNS yang diangkat pada 1995 adalah sebesar Rp129,2 juta pada 2011.

"Perbuatan penempatan, transfer, pengalihan, pembelanjaan, pembayaran, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga lain dilakukan oleh terdakwa tidak sesuai dengan pendapatan yang diperoleh secara legal," kata JPU.

Atas perbuatan terdakwa, DW diancam pidana dalam pasal 3 Undang-undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP dengan hukuman penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Kuasa hukum DW, Lutfie Hakim, menyebut tuduhan JPU tersebut merupakan "pepesan kosong."

"JPU menggoreng 'pepesan kosong' karena ada beberapa hal yang bukan perbuatan terdakwa seperti pemeriksaan di KPP Kebon Jeruk karena terdakwa bekerja di KPP Pancoran, artinya perbuatan itu dilakukan orang lain tapi disalahkan kepada DW," kata Lutfie usai sidang.

Lutfie juga menyatakan bahwa JPU tidak menyebut total uang yang "dicuci" terdakwa dan tidak mengungkapkan tuduhan pokok dalam upaya pencucian uang.

"Dakwaan tadi menjadi antiklimaks dari keseluruhan proses karena dakwaan hanya Rp2-3 miliar, sehingga menumbangkan kehebohan berita selama ini," tambah Lutfie.

DW, yang mengenakan baju batik warna ungu, tidak banyak bicara dalam sidang tersebut. Dia hanya menjawab bahwa ia mengerti mengenai dakwaan yang disampaikan JPU. Sidang kasus tersebut akan dilanjutkan Senin (9/7) dengan agenda pengajuan nota keberatan dari kuasa hukum DW.

(D017)



Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga