Selasa, 21 Oktober 2014

Sepenggal kisah bangkitnya lagi si Raja Federer

| 6.677 Views
id roger federer, juara wimbledon, rekor roger federer, grand slam, andy murray
Sepenggal kisah bangkitnya lagi si Raja Federer
Petenis Swiss Roger Federer. (REUTERS/Danny Moloshok)
London (ANTARA News) - Ketika Roger Federer melangkah untuk terakhir kalinya di Centre Court sebagai juara Wimbledon sepertinya mustahil bagi petenis besar Swiss bisa melewati tiga tahun penuh frustasi sebelum kemudian merebut lagi tahtanya itu.

Kemenangan 4-6, 7-5, 6-3, 6-4 Federer atas Andy Murray pada final Wimbledon Minggu ini menyamai rekor tujuh kali juara All England Club dan mengembalikannya ke puncak pringkat dunia setelah dua tahun absen juara.

Kendati Federer terbiasa dengan kejayaan Wimbledon, emosi yang dia perlihatkan semalam setelah menang atas Murray menegaskan bahwa itu lebih dari sekadar tangisan mencetak rekor gelar ke-17-nya.

Ini adalah momen emosional bagi Federer yang menghabiskan tiga tahun terakhir waktunya guna berjuang melawan keraguan publik mengenai kemungkinan masanya telah berakhir setelah terakhir kali menjuarai Grand Slam pada 2010 dengan memenangi Australia Terbuka.

Seolah-olah tenis kini tidak lagi penting bagi ayah dua anak perempuan ini sejak dia mengguncang dunia tenis pada 2001 lewat kemenangan mengejutkannya atas Pete Sampras di final Wimbledon.

Oleh karena itu, bangkitnya lagi supremasi dia di Wimbledon adalah jawaban sempurna atas kritik orang kepadanya.  Jangan kaget jika dia jatuh bersimpuh untuk menumpahkan tangis suka citanya.

Ini emosi berbeda ketika pada turnamen serupa dia menaklukan Andy Roddik pada 2009.

Keberhasilannya ini seperti kembalinya Federer ke kondisi normal setelah kekalahan lima setnya setahun sebelumnya dari Rafael Nadal yang menghentikan kemenangan lima kali berturut-turut gelar Wimbledon.

36 bulan berikutnya menjadi periode tersulit dalam karir Federer dan ketika dua pekan lalu dia tiba di London untuk kampanye Wimbledon-nya yang ke-14, petenis berusia 30 tahun ini dianggap sebagai kekuatan yang memudar.

Kekalahannya yang mengejutkan dari Juan Martin del Potro pada AS Terbuka lalu menunjukkan sisi lemah Federer yang membuat Nadal dan Novak Djokovic mengeksploitasinya dengan kejam.

Setelah memulai tahun 2010 dengan menang dari Murray pada Australia Terbuka, Federer hanya tampil sekali dalam sembilan final Grand Slam dan itu pun berakhir dengan kekalahan dari Nadal di Roland Garros pada Prancis Terbuka.

Selagi Djokovic menikmati sebagai seorang tunggal putera terbesar dalam sejarah tenis tahun lalu, Federer terseok ke peringkat tiga dan orang mulai meragukan dia sebagai petenis terbesar sepanjang masa.

Yang terburuk dari penampilannya di Wimbledon adalah saat dia gagal berturut-turut pada perempatfinal Wimbledon 2010 karena dihadang Tomas Berdych dan Wimbledon 2011 saat dipatahkan Jo-Wilfried Tsonga.  Kekalahan dari Tsonga malah mengejutkan karena untuk pertama kalinya dia kalah dua set pada sebuahturnamen Grand Slam.

Itu adalah ratapan paling kerasnya sejak Federer yang jatuh cinta pada tenis semenjak kecil di Basel, Swiss, menguasai jagat tenis sebagai peringkat pertama selama 285 pekan.

Saat remaja dulu Federer mampu menunjukkan seluruh talentanya.  Dia seperti sedang memburu sejarah lewat satu kemenangan ke kemenanganya lainnya, dan kemenangan pertama dicapainya pada Wimbledon 2003 saat mengalahkan Mark Philippoussis.

Kemenangan ini membuka kejayaannya dengan memenangkan tiga dari empat turnamen besar, yaitu mempertahankan gelar Wimbledon dengan menyandingkannya dengan juara Australia Terbuka dan AS Terbuka.

Era emas Federer telah membuatnya memenangi sembilan dari 10 final turnamen Grand Slam yang diikutinya.

Dia mungkin tak akan lagi mencapai prestasi itu, tapi kemenangan Minggu ini membuktikan dia belum berakhir.

Penerjemah: Jafar M Sidik

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga