Jakarta (ANTARA News) - Sebuah bus ukuran sedang berwarna merah cerah yang masih tampak "kinclong" terpajang megah di teras kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada peluncuran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2012 akhir bulan lalu.

Bus anyar itu sedang menunggu rombongan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Mohammad Hatta dan Menteri Perhubungan EE Mangindaan yang akan menguji coba bus dengan mengendarainya berkeliling Monumen Nasional, Jakarta.

"Sangat nyaman. Dibanding dengan mobil diesel, ini tak ada suara. Mulai dari kecepatan pelan sampai kecepatan tinggi sangat halus," kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini usai mencoba bus.

Bus bernama Hybrid Electric Vehicle Indonesia atau Hevina itu memang bukan bus biasa yang menggunakan bahan bakar solar atau bensin, tapi sepenuhnya dijalankan dengan tenaga listrik dari baterai Lithium (LifeP04) yang memutar motor listrik penggerak roda.

Perbedaan mendasar antara mobil listrik dan mobil konvensional terletak pada sistem penggeraknya, mobil konvensional menggunakan mesin yang bergerak karena pembakaran bahan bakar sedang mobil listrik berpenggerak motor listrik.

Pada mobil konvensional terjadi proses pembakaran yang menimbulkan suara bising sedang pada mobil listrik penggerak motornya menggunakan energi listrik sehingga tidak menimbulkan suara.

Bus Listrik yang dibuat oleh Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut mampu membawa 15-17 orang dengan kecepatan maksimal 100 kilometer per jam serta mampu berjalan sejauh 150 kilometer dengan sekali pengisian baterai 500 Ampere.


Masih mahal

Menurut peneliti yang memimpin riset bus listrik di LIPI, Abdul Hapid, biaya pembuatan prototipe minibus listrik tersebut mencapai sekitar Rp1,5 miliar, jauh lebih besar dari rata-rata harga minibus berbahan bakar minyak yang hanya sekitar Rp300-350 juta per unit.

Harga mobil listrik, kata dia, mahal karena harga baterai yang sangat tinggi, sampai 40 persen dari harga mobil secara keseluruhan.

"Bus listrik ini memuat 100 baterai lithium yang masing-masing seberat lima kilogram, berat seluruhnya 500 kilogram dengan total harga lebih dari Rp400 juta, lebih mahal dari harga motor listriknya," kata dia serta menambahkan harga mobil listrik bisa lebih murah kalau ada pengganti baterai lithium ion yang lebih murah.

Ia mengatakan, sebenarnya harga mobil listrik dimanapun di dunia sampai sekarang masih mahal, hanya kadang tampak lebih murah karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Abdul mencontohkan, di China bus listrik dapat subsidi hingga 73.000 dolar AS per unit dan mobil listrik jenis sedan disubsidi 8.800 dolar AS sementara di Amerika Serikat subsidi mobil listrik sekelas sedan sampai 7.500 dolar AS.

Lebih lanjut dia menjelaskan, meski mahal namun mobil listrik menyempurnakan banyak kelemahan mobil berbahan bakar minyak karena lebih ramah lingkungan, hemat energi dan biaya operasionalnya rendah.

Bus listrik tidak mengeluarkan karbondioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil, tak memakai knalpot, ujarnya.

Mobil listrik juga lebih hemat energi. Menurut Abdul, mobil listrik hanya menghabiskan ongkos energi Rp2.000 untuk dua kWh atau jarak tempuh 10 kilometer sedang mobil konvensional berbahan bakar solar atau bensin dengan subsidi Rp4.500 per liter, jarak tempuh per liter bahan bakarnya 7-10 kilometer.

"Mesin mobil listrik juga mati dengan sendirinya jika tidak jalan, jadi kalau berhenti di lampu merah, energi tidak digunakan, karena itu makin hemat," katanya.

Ia menambahkan, efisiensi penggunaan energi mobil listrik lebih dari 80 persen atau jauh lebih besar dibandingkan dengan efisiensi pembakaran mobil konvensional yang hanya 12-15 persen.

"Perawatan mobil listrik juga hampir tidak ada karena tidak ada radiator, tidak perlu ganti aki, tidak perlu ganti oli mesin dan filter," kata Abdul.

 
Awal produksi


Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menyatakan bangga bisa mencoba bus listrik buatan LIPI yang nyaman untuk transportasi darat.

"Kami dengan kementerian terkait dan sejumlah pelaku usaha sudah berkoordinasi untuk mempersiapkan penyempurnaan teknologi, fasilitas produksi hingga regulasinya serta mekanisme persaingan usaha yang sehat agar bus listrik nasional ini bisa diproduksi secara massal dan kompetitif," ujarnya.

Gusti menargetkan produksi mobil listrik dalam jumlah terbatas sudah bisa dilakukan pada awal 2013 dan dilanjutkan produksi mobil secara massal pada 2014.

Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan berjanji mendukung penggunaan mobil listrik tersebut di masyarakat dengan merumuskan regulasi dan juga infrastrukturnya.

"Kami juga dukung ini. Akan disiapkan infrastruktur berupa stasiun tempat pengisian baterai mobil listrik," kata Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini.

Pengembang bus listrik juga menyatakan yakin bus listrik hasil riset LIPI bisa diproduksi secara massal oleh industri.

"Motor listrik dan baterai masih diimpor, kerangkanya dari pabrik Isuzu. Tapi konsep rancangan bus listrik ini, hingga bodinya, termasuk interior dan eksterior, sepenuhnya dibuat LIPI bersama bengkel karoseri pembuat badan kendaraan niaga, truk, dan bus di dalam negeri, jadi prinsipnya kita bisa," kata Abdul.

Dia yakin harga bus listrik tersebut bisa lebih kompetitif kalau diproduksi secara komersial dalam jumlah besar. Dan dia berharap selanjutnya bus listrik Hervina LIPI bisa mendorong inovasi mobil listrik nasional lainnya.

(D009