Sabtu, 25 Oktober 2014

Dilema petani ketika harga kedelai meroket

| 2.893 Views
id harga pangan, krisis pangan, harga sembako, kemandirian pangan, kelangkaan kedelai, tahu tempe, harga kedelai
Dilema petani ketika harga kedelai meroket
Pemerintah berencana membebaskan bea masuk kedelai hingga akhir 2012 mengingat tingginya harga kedelai internasional. (ANTARA/M Agung Rajasa)
Jakarta (ANTARA News) - Sabtu siang yang terik di tengah kebun seluas 11 hektare di antara hamparan sawah yang menguning di Desa Wonoayu, Sidoarjo, saya merasakan kegundahan petani kedelai.

Pak Hadi, petani kedelai, menjelaskan kepada saya bahwa panen kedelai seluas 11 hektare di Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo,  yang produksinya 2,1 ton kedelai per hektare. Jelas, ini lebih kecil ketimbang bersawah yang menghasilkan 9 ton per hektare.

"Harapan saya mbak, sederhana, agar pemerintah  bisa menjamin harga kedelai pascapanen raya tidak lagi anjlok kembali ke harga Rp5.300," katanya kepada saya.

Dengan harga sebesar itu, dia dan para petani kedelai akan bergairah kembali menanam kedelai.

Dia menyambung, "Alhamdulilah jika harganya bisa tetap 8.000 (rupiah) mbak, bisa bersaing dengan tanaman jenis komoditas lainnya.” 

Sejak pekan lalu, petani kedelai, menikmati masa madu ketika harga terdongkrak sampai Rp7.800 bahkan Rp8.000 rupiah per kilogram.
 
Pekan lalu, pemerintah baru saja memutuskan menurunkan bea masuk impor kedelai menjadi 5 persen dengan harapan bisa menstabilkan harga tempe yang meroket hingga Rp8.000 rupiah, dari Rp4.000 rupiah.

Kepada Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan yang menghadiri panen raya kedelai di Sidoarjo, 28 Juli lalu, para petani juga menginginkan irigasi tersier, terutama air, pemberantas hama, dan traktor.

Salah satu hal penting lainnya adalah meningkatkan kualitas varietas kedelai yang nyaris tak terdengar dari Kementerian Pertanian.

Infrastruktur pembangunan pertanian memang tidak memprioritaskan kedelai karena tidak kompetitifnya harga, juga karena secara strategis produksinya dianggap tidak menyumbang inflasi besar dibandingkan komoditas lainnya.

Direktur Utama Bulog Sutarto Ali Muso yang hadir pada acara panen raya itu menyatakan harga idel kedelai mestinya memang 1,5 kali dari harga beras, atau Rp7.500 per kilogram, sehingga petani bisa menikmati hasil produksi mereka.

Wamentan juga membahas soal penjualan hasil produksi kedelai yang diusulkan dibeli badan penyangga seperti Bulog, bukan jatuh ke tangan tengkulak seperti selama ini terjadi.

Petani yang berdialog dengan Wamentan, Dirut Bulog dan Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi, juga meminta pemerintah menjamin harga pokok produksi kedelai, seperti jaminan pada komoditas lainnya. 

Di Jawa Timur, produsen tahu dan tempe terus berproduksi dengan mengurangi ukuran sehingga harga terjangkau oleh pembeli.

Jawa Timur sendiri menyumbang 40 persen pasokan kedelai tingkat nasional.

Impor kedelai memang dibutuhkan untuk memasok 1,5 juta ton konsumsi nasional karena kita gemar makan tempe dan tahu.

Bea masuk nol persen pun tak signifikan menurunkan harga ketika hukum pasar berlaku, saat harga pada level dunia melonjak dari 280 dolar AS menjadi 700 dolar AS. Ini ditambah faktor eksternal, anomali cuaca.

Pertanyaannya, sejauh mana komitmen para importir untuk tidak terjebak pada permainan harga hanya demi keuntungan sesaat.

Wajah Pak Hadi dan petani kedelai lain yang berharap hasil produksinya bisa kompetitif, tak akan mampu saya lupakan.  

(*) Asisgten Staf Khusus Presiden dan Pendiri National Press Club Indonesia

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga