Minggu, 26 Oktober 2014

Tekan impor kedelai dengan budidaya jenuh air pasang surut

| 4.219 Views
id impor kedelai, teknologi budidaya kedelai, budidaya pertanian, budidaya kedelai
Jakarta (ANTARA News) - Produktivitas kedelai dalam negeri ternyata tidak sebanding dengan tingginya  konsumsi  masyarakat akan kacang kedelai.

Kacang kedelai adalah salah satu sumber protein nabati yang banyak dikonsumsi dalam berbagai bentuk olahan, seperti tempe, tahu, dan aneka makanan ringan (snack).

Produksi yang rendah mengakibatkan Indonesia harus memenuhinya dengan kedelai impor.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik pada tahun 2011, impor kedelai mencapai 2.08 juta ton.

Kondisi ini menempatkan kedelai sebagai penghuni daftar panjang produk impor Indonesia.

Pakar kedelai Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Munif Ghulamahdi menemukan inovasi untuk menjawab masalah rendahnya produktivitas tanaman kedelai ini.

Riset Prof. Munif dalam merekayasa teknologi budidaya pada  varietas unggul menghasilkan hingga 400 polong kedelai per tanaman, dengan rata-rata 105 polong per tanaman pada populasi 400.000 tanaman per hektar.

Panen massal varietas ini telah dilakukan pada tahun 2009 di lahan ujicoba di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan.

Kedelai ini pada awalnya ditanam pada lahan pasang surut seluas 0,25 hektar yang dapat menghasilkan 4,63 ton biji kering/ha.

Selanjutnya kedelai ditanam secara massal pada lahan seluas 2.5 ha, dan petani masih mampu menghasilkan pada kisaran 2.75-3.38  ton/ha.

Produktivitas kedelai di lahan pasang surut ini tergolong tinggi, karena biasanya jika ditanam dengan sistem budidaya kering hanya mampu menghasilkan 0.8 ton/ha.
 
Ketika akan mengadakan penelitian, staf pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB ini sempat mengalami kesulitan untuk meyakinkan petani karena areal penanamannya berupa daerah pasang surut.

Upayanya meyakinkan petani akhirnya berhasil sehingga ada petani yang bersedia lahannya dijadikan ujicoba penelitian.
 
Dari beberapa varietas kedelai yang diujicobakan seperti Tanggamus, Slamet, Willis dan Anjasmoro, Tanggamus merupakan varietas dengan hasil terbaik yang dikembangkan dengan teknologi budidaya jenuh air di lahan pasang surut.

Walaupun rata-rata masing-masing varietas tanaman memiliki perkembangan yang sangat baik. Varietas Tanggamus dapat mencapai hasil sebanyak 4,63 ton biji kering/ha. Sehingga Prof. Munif merekomendasikan kepada petani untuk memilih Tanggamus karena merupakan tanaman kedelai yang memiliki hasil terbaik.
 
Selain varietas harus ditentukan, proses penanaman kedelai dilakukan dengan cara memberikan irigasi terus menerus dan membuat permukaan air tetap stabil.

Air diberikan sejak tanaman berumur 14 hari sampai polong berwarna cokelat.
 
Indonesia, menurut  Prof. Munif memiliki wilayah pasang surut 20,1 juta hektar dan sekitar 9,53 juta hektar berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian secara umum.

Lahan pasang surut yang mempunyai potensi tinggi untuk ditanami kedelai seluas 2,08 juta ha.

Hanya saja masih banyak petani tidak  berani menanam kedelai karena kesulitan pasar.  

Hal ini menjadi masalah tersendiri ketika menghadapi kenyataan bahwa di satu sisi Indonesia masih impor kedelai cukup tinggi, dan di sisi lain ketika riset peningkatan produktivitas itu tersedia, petani tidak berani membudidayakan karena pasarnya kurang.
 
Penelitian ini terpilih sebagai satu dari 103 Inovasi Indonesia Paling Prospektif tahun 2011 yang diselenggarakan Bussiness Inovation Center  didukung Kementerian Riset dan Teknologi RI.

Prof. Munif menekankan, untuk mengembangkan varietas ini jelas dibutuhkan  ketersediaan lahan pertanian khususnya untuk budidaya kacang kedelai.  Jika pemerintah serius untuk menindaklanjuti hal ini, maka harapan untuk menekan angka impor kedelai bisa terwujud.

(Advertorial)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Top News
Baca Juga