Selasa, 30 September 2014

Penerjemah bisa kurangi kesalahan medis lho

Rabu, 18 April 2012 15:15 WIB | 1.295 Views
Dallas (Antara News) - Penerjemah ahli di Unit Gawat Darurat (UGD) untuk pasien yang tak berbahasa Inggris bisa mengurangi miskomunikasi, demikian hasil sebuah penelitian di Amerika Serikat seperti dikutip Reuters.
 
Penelitian diadakan di dua UGD pasien anak dan dipublikasikan oleh Annals of Emergency Medicine ini menunjukkan bahwa miskomunikasi yang berimbas pada kesehatan seperti salah memberi dosis obat, terjadi dua kali lebih banyak bila tak ada penerjemah atau penerjemahnya amatiran.
 
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa miskomunikasi yang berujung pada salah pengobatan lebih berpeluang terjadi jika tak ada penerjemah dibandingkan ketika ada penerjemah profesional,” kata Glenn Flores, ketua tim peneliti dari University of Texas Southwestern Medical Center di Dallas.

Ternyata ekitar 25 juta penduduk Amerika Serikat tak fasih berbahasa Inggris.

Dari segi hukum, rumah sakit di AS yang mendapat suntikan dana dari pemerintah seharusnya memberi pelayanan penerjemahan untuk pasien dengan kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas.

Menurut penelitian ini, para pasien menyetujui adanya penerjemah. Selain meningkatkan kualitas pelayanan, ternyata ini juga dapat mengurangi pengeluaran rumah sakit.

Contohnhya, bila ada penerjemah maka penanganan kesehatan akan lebih efektif karena tepat sasaran tanpa melalui tes-tes kesehatan yang sebenarnya tak perlu.

Kendati begitu, masih belum jelas perbedaan kinerja penerjemah profesional dengan yang amatir atau tanpa penerjemah.

Penelitian ini mengambil subjek 57 keluarga yang berobat di dua UGD anak di Massachusetts. Semuanya berbahasa ibu bahasa Spanyol.

Sebanyak 20 keluarga dibantu penerjemah ahli, sepuluh keluarga tidak dibantu penerjemah dan 27 lainnya dibantu penerjemah amatir.

Saat penerjemah terlatih hadir, ada 12 persen risiko salah terjemahan yang bisa membahayakan kesehatan anak.

Bila sang penerjemah itu anggota keluarga atau staf rumah sakit yang menguasai dua bahasa, risiko itu meningkat menjadi 20-22 persen.

Kesalahan lebih jarang terjadi saat penerjemah punya jam terbang lebih dari 100 jam.

Miskomunikasi yang berisiko pada kesehatan anak hanya sebesar 2 persen bila dipandu penerjemah sangat terlatih.

“Penemuan ini menganjurkan agar penerjemah medis sebaiknya punya jam terbang paling tidak 100 jam untuk mengurangi miskomunikasi yang dapat berakibat fatal pada kesehatan pasien,” demikian kesimpulan para  peneliti dalam studi ini.

Penerjemah: Jafar M Sidik

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga