Minggu, 21 September 2014

Kemenkeu: beban bunga obligasi rekap makin turun

Jumat, 29 Juni 2012 23:56 WIB | 4.153 Views
Jakarta (ANTARA News) - Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto memastikan total beban bunga berdasarkan saldo obligasi rekap makin menurun setiap tahun.

"Beban bunga obligasi rekap semakin menurun seiring dengan menurunnya saldo obligasi rekap, demikian juga proporsinya terhadap total bunga surat berharga negara domestik," ujarnya di Jakarta, Jumat.

Rahmat mengatakan, total bunga obligasi rekap pada 2012 diperkirakan mencapai Rp11,03 triliun atau sekitar 15 persen dari total bunga surat berharga negara domestik sebesar Rp73,32 triliun.

Sedangkan pada 2013, total bunga obligasi rekap diprediksi hanya mencapai Rp8,52 triliun atau 11 persen dari total bunga surat berharga negara domestik sebesar Rp76,2 triliun.

"Pada 2013 akan jatuh tempo semua yang fixed rate (tingkat bunga tetap), tinggal variable rate (tingkat bunga bergerak) yang di bawah empat persen semua. Selama ini kan obligasi rekap yang dipersoalkan beban bunganya, padahal terus menurun," katanya.

Menurut dia, obligasi rekap fixed rate yang tersisa mencapai Rp26,95 triliun dan dari jumlah tersebut, sebesar Rp5,4 triliun akan jatuh tempo pada 2012 dan senilai Rp21,5 triliun akan jatuh tempo pada 2013.

Sedangkan obligasi rekap variable rate yang masih beredar mencapai Rp135,06 triliun yang akan jatuh tempo seluruhnya pada 2020. Dengan demikian, saat ini secara keseluruhan obligasi rekap yang beredar mencapai Rp162 triliun.

"Pada 1999-2001, pemerintah menerbitkan obligasi rekap sebesar Rp422,6 triliun. Dengan pelunasan obligasi rekap, jumlah agregat yang tersisa mencapai Rp162 triliun, dan ke depan akan terus berkurang karena obligasi yang jatuh tempo makin banyak," ujarnya.

Rahmat mengatakan pemerintah akan mendorong pelunasan obligasi rekap melalui mekanisme pasar yaitu dengan pembelian kembali secara tunai (cash buyback) dan penukaran dengan surat utang negara (SUN) atau debt switching.

"Langkah ini lebih transparan, akuntabel, dan ramah pasar (market friendly)," katanya.

Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan mekanisme penukaran obligasi rekap dengan aset (asset bond swap) yang pernah dilakukan pada 2002--2003.

"Solusi asset bond swap telah dilakukan oleh pemerintah, sementara beberapa solusi lainnya masih terhambat aspek hukum dan memerlukan kajian mendalam," kata Rahmat.
(S034/Z002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga