Selasa, 2 September 2014

Pariwisata London anjlok selama Olimpiade

Kamis, 2 Agustus 2012 13:57 WIB | 2.960 Views
Pariwisata London anjlok selama Olimpiade
Ilustrasi Kota London (jente.ca)
London (ANTARA News) - Perhelatan akbar Olimpiade 2012 yang diselenggarakan di London, Inggris, ternyata membuat para wisatawan kesulitan untuk datang ke ibu kota negara itu menyusul adanya peringatan kekacauan perjalanan dan harga kamar hotel yang dinilai terlalu mahal.

Berdasarkan data industri setempat, banyak pebisnis yang mengunjungi London mengeluh karena mereka dikesampingkan sebagai wisatawan. Hal ini disebabkan perhatian lebih tertuju pada pertandingan Olimpiade dan mereka juga menghindari tujuan wisata dan belanja di ibu kota negara itu.

Sementara mereka yang bukan penggemar olahraga, memilih untuk tinggal di rumah atau menunda perjalanan mereka.

Selama Olimpiade, para komuter dan wisatawan diperingatkan untuk menghindari pusat kota London yang dipadati jutaan atlet, staf pendukung, media dan penonton.

Pesta olahraga itu sejak lama digembor-gemborkan sebagai kunci untuk mendongkrak perekonomian Inggris yang mengalami masa sulit. Namun jumlah wisatawan turun drastis sejak pesta olahraga itu dimulai, berdasarkan Asosiasi Operator Tur Eropa (ETOA).

"Jumlah wisatawan asing yang datang ke London mendekati 300.000 dan wisatawan lokal sebanyak 800.000 setiap harinya. Orang-orang ini sudah diberitahu secara implisit untuk menjauhi London dan mereka melakukannya," ujar Ketua ETOA, Tom Jenkins.

Dia berargumen banyak wisatawan yang mengikuti saran resmi perjalanan dari badan transportasi London itu --yang mengoperasikan kereta api dan transportasi lainnya di ibu kota Inggris itu.

"Jumlah wisatawan saat ini, turun drastis dibandingkan tahun lalu. Seberapa banyak turunnya, akan ditentukan oleh Badan Transportasil London yang mempertahankan kampanye "jangan datang ke London"," tambah dia.

Namun menurunnya jumlah wisatawan itu, lanjut dia, telah digantikan oleh 500.000 pemegang tiket pertandingan yang mayoritas warga London, yang datang ke kota itu untuk menonton pertandingan olahraga.

"Mereka belum tentu tertarik menjadikan London sebagai tujuan wisata. Mereka di sini tidak untuk berbelanja, melihat-lihat atau makan-makan," jelas dia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengemudi Taksi Berlisensi, Steve McNamara, sepakat bahwa banyak wisatawan yang menaati peringatan resmi itu dan membuatnya berpikir bahwa jalanan London tak ubahnya sebagai "kota hantu",

"Bisnis kami menurun sekitar 20 hingga 40 persen tergantung pada waktunya," ujar McNamara.

Pada saat normal, kata McNamara, sekitar 90 persen pelanggan mereka adalah warga London yang telah meninggalkan kota itu untuk sementara dan digantikan oleh wisatawan.

"Saya tidak tahu dimana semua wisatawan ini atau bagaimana mereka mendapatkan petunjuk arah, namun London tak ubahnya seperti kota hantu."

Banyak calon wisatawan yang memutuskan untuk menunda perjalanan mereka ke London sampai September, setelah berakhirnya Olimpiade dan Paralimpiade.

"Jika dibandingan dengan periode sama pada tahun lalu, pemesanan untuk hotel-hotel di London turun drastis, berbanding terbalik dengan pemesanan di semua kota-kota di Eropa yang naik secara signifikan --seperti kondisi London pada September," ujar Kepala Penyedia Ruang Hotel Jac Travel, Angela Skelly.

Meskipun bukti-bukti menunjukkan penurunan, kepala pariwisata Inggris tetap optimistis London meraup keuntungan dari Olimpiade.

"Kami selalu mengakui bahwa pesta olahraga Olimpiade London 2012 akan menyajikan tantangan dan peluang," ujar Juru Bicara Badan Pariwisata VisitBritain, Mark Di-Toro.

"Kota tuan rumah dan negara biasanya mengalami penurunan wisata pada tahun diselenggarakannya Olimpiade dan ini ambisi kami untuk menjadikan tren itu sebagai mesin uang."

Di-Toro menambahkan hal itu ditunjukkan dengan tingkat okupansi hotel sekitar 80 persen selama pesta olahraga itu.

Pemerintah Inggris berharap untuk menghasilkkan penawaran senilai lebih dari 1 miliar poundsterling selama Olimpiade, dan lebih dari 13 miliar poundsterling selama dua atau tiga tahun. Pesta olahraga itu menelan biaya 9,3 miliar untuk panggung.
(I025/AK)

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga