Rabu, 27 Agustus 2014

China tutupi lemahnya inovasi dengan hak paten

Selasa, 21 Agustus 2012 21:23 WIB | 2.459 Views
China tutupi lemahnya inovasi dengan hak paten
(ANTARA/ANDIKA WAHYU)
Jakarta (ANTARA News) - Satu survei di Eropa memperingatkan bahwa Cina berambis memproduksi jutaan label dengan hak paten tertulis sebagai bagian dari mengubah "made in China" menjadi "designed in China" yang justru mengurangi standard inovasi produk.

Seperti dikutip Reuters, China berupaya mentransformasi dirinya dari pabrik dunia menjadi pelopor dunia dengan target hak paten bermandat negara yang ambisius.

Tahun lalu, pengajuan hak paten China lebih banyak dari hak paten yang diajukan Amerika Serikat.

Kamar Dagang Uni Eropa mengatakan China mengajukan lebih dari 1,6 juta aplikasi hak paten pada 2011, tapi hanya 32 persen yang cocok dengan kualitas yang dihasilkan.

Penelitian tersebut menekankan bahwa potensi inovasi China sangat mengesankan tapi realitasnya sangat berlebihan.

"Ledakan hak paten itu lebih berdasarkan kepada harga dan bukan kepada kualitas, ini bukan ke arah yang benar," kata Sekertaris Jenderal Kamar Dagang Eropa Dirk Moens.

Dalam beberapa hal, insentif keuangan dan evaluasi kinerja perusahaan, lembaga dan lingkungan akademik di bawah negara, mengajukan paten-paten kualitas rendah demi  memenuhi kuota 2 juta setahun sampai tahun 2015 di bawah rencana pembangunan nasional.

China juga punya paten dari segi desain dan model pembaruan yang dapat menggantikan produk yang telah ada tapi jarang membuat gebrakan dalam hal teknologi.

Amerika Serikat juga tidak menggunakan paten model, kendati sejumlah negara seperti Jerman menerapkannya.

65 persen aplikasi hak paten yang diajukan BUMN menengah dan besar China terbukti miskin dari segi desain dan kualitas produk sehingga membuat China dikenal sebagai salah satu negara yang inovatornya kurang efektif.

"Seseorang tidak bisa memaksakan kreativitas tapi hanya mendidik saja, sementara terobosan kreativitas biasanya menghasilkan paten-paten kualitas tinggi," tulis laporan itu seraya menggarisbawahi setidaknya 20 negara punya potensi inovasi terbaik daripada negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Tapi pakar hukum dari Rouse Legal di Shanghai, Elliot Papageorgiou, mengatakan paten model utilitas baik untuk Cina.

"Di negara berkembang, Anda bukan sekedar mencari barang baru, tapi barang baru dengan harga murah juga," kata dia kepada Reuters.

(tri)

Penerjemah: Tria Dianti

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga