Senin, 1 September 2014

BI : posisi neraca transaksi berjalan masih aman

Rabu, 18 Juli 2012 20:45 WIB | 3.584 Views
BI : posisi neraca transaksi berjalan masih aman
Bank Indonesia - BI (FOTO ANTARA News)
Jakarta (ANTARA News) - Direktur Grup Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), Juda Agung mengatakan posisi neraca transaksi berjalan pada triwulan II 2012 masih aman meskipun kecenderungan peningkatan defisit harus diwaspadai.

"Defisit transaksi berjalan di triwulan dua 2012 memang diperkirakan lebih besar, namun masih wajar untuk negara berkembang seperti Indonesia," kata Juda Agung dalam diskusi bertema Perkemabangan Ekonomi dan Neraca Pembayaran di Jakarta, Rabu.

Juda belum dapat menyebutkan secara pasti besaran angka defisitnya karena masih menunggu data yang lebih lengkap. Namun ia memperkirakan defisit transaksi berjalan akan mendekati dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih besar dibanding kuartal I 2012 sebesar 1,3 persen.

Menurut Juda, meningkatnya defisit transaksi berjalan karena membengkaknya impor pada April--Mei, terutama impor barang modal untuk penunjang pembangunan infrastruktur, sektor telekomunikasi dan transportasi serta impor barang konsumsi khususnya kendaraan bermotor.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan impor Indonesia selama Januari-Mei 2012 meningkat sebesar 17,4 persen dibanding periode yang sama tahun 2011. Sementara nilai ekspor Indonesia pada periode yang sama baru meningkat 1,5 persen.

Berdasar data BI lebih dari 80 persen komoditas diekspor ke China yang berupa produk primer seperti batubara dan minyak sawit mentah (CPO) dalam lima bulan pertama 2012. Ekspor tersebut melambat akibat perlambatan permintaan riil sehingga harganya juga turun.

Meski demikian, Juda mengatakan transaksi berjalan akan kembali membaik pada triwulan III 2012 karena perekonomian China diperkirakan akan pulih kembali sehingga ekspor Indonesia kembali meningkat.

Selain itu, dia menambahkan, kedepan penyesuaian terhadap impor bahan baku sejalan dengan menurunnya ekspor akan mengurangi tekanan defisist neraca transaksi berjalan.

BI telah mengantisipasi kenaikan impor konsumsi melalui kebijakan minimun uang muka kredit atau "Loan to value (LTV)". "Dampak kebijakana LTV akan mengerem permintaan impor otomotif yang diperkirakan akan mulai berdampak pasca lebaran," kata Juda.

Ia mengatakan BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah menekan agar impor terutama yang tidak diperlukan untuk kegiatan produktif dapat dikurangi.
(SDP-56/A039)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga