Jakarta (ANTARA News) - Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menilai penurunan bea masuk (BM) impor kedelai hingga nol persen belum memberikan dampak signifikan penurunan harga kedelai.

"Pembebasan BM itu belum berpengaruh kepada pengrajin tahu dan tempe karena kalau turun lima persen berarti turun sekitar Rp350-Rp400 saja per kg, sedangkan harga kedelai mengikuti harga pasar dunia," kata Ketua II Bidang Usaha Gakoptindo, Sutaryo dihubungi di Jakarta, Senin.

Sutaryo mengatakan penurunan itu terus diikuti dengan kenaikan yang terjadi karena krisis kekeringan di negara asalnya. Kalau situasi di Amerika Serikat semakin "paceklik" maka semakin tinggi juga harganya karena ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor besar.

Sutaryo menegaskan akar permasalahan untuk pengrajin tahu-tempe tidak akan terselesaikan kalau masih saja menggunakan cara pasar bebas seperti itu.

"Kedelai sebulan sampai dua bulan keberadaannya di Indonesia itu pelepasan harganya mengikuti yang terjadi di Amerika Serikat (AS)," lanjut Sutaryo.

Menurut dia, misalnya kedelai yang sudah berada di Indonesia dibeli seharga Rp6.000 per kg jika dilepas dengan berbagai perhitungan biaya operasional serta mengikuti situasi AS maka harga jualnya menjadi senilai Rp7.000 per kg.

"Jika ada perubahan harga di AS maka setiap hari harga tahu tempe berubah di sini," ujarnya.

Penurunan tarif BM impor kedelai, lanjut Sutaryo, merupakan tahap awal untuk mengurangi harganya saja tapi pemerintah harus merumuskan konsep stabilitas harga kedelai yang bersifat jangka panjang.

(SDP-45)