Jakarta (ANTARA News)  - Permintaan akan daging sapi dan kerbau yang selalu meningkat tajam setiap tahun tidak mampu diimbangi dengan pasokan dari dalam negeri. Sehingga Indonesia harus mengimport pasokan daging ini dalam jumlah besar sekitar 35-40%, yang tentu memakan devisa sangat besar.

Penyebab utamanya adalah rendahnya produktivitas dari ternak sapi potong/kerbau yang sebagian besar dipelihara oleh masyarakat perdesaan secara tradisional.

Inovasi yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas sudah tersedia namun diseminasi dan adopsinya masih jauh dari memuaskan.

Kondisi ini menimbulkan dampak serius berupa menurunnya populasi dan merosotnya kualitas genetik bibit ternak.

Tanpa upaya yang signifikan dalam jangka panjang dapat dipastikan bahwa ternak sapi/kerbau lokal akan punah dan Indonesia tergantung sepenuhnya pada produk daging import.

Berbagai upaya melalui beberapa program pemerintah seperti Prima Tani, PUAP,Village Breeding Center, Sistem Integrasi Tanaman Ternak dan inseminasi buatan (IB) telah digulirkan.

Namun sejauh ini  secara nasional belum memberikan dampak signifikan.

Maka diperlukan upaya percepatan adopsi inovasi yang benar-benar diinginkan dan dibutuhkan oleh peternak skala mikro,kecil dan menengah (MKM).

Beberapa tahun terakhir ini sistem diseminasi melalui cara demfarm paket teknologi lengkap, atau disebut juga laboratorium lapang telah dicoba untuk mempercepat adopsi teknologi, akan tetapi hampir tidak ada peternak yang mampu mengadopsinya secara lengkap, mandiri dan berkelanjutan.

Akibatnya unit ini hanya mampu bertahan sepanjang ada pendanaan dari pemerintah.

Peternak hanya perlu mengadopsi beberapa komponen teknologi yang benar-benar diperlukan serta mampu mereka upayakan secara mandiri, contohnya adalah penanaman dan pemberian rumput unggul serta pemanfaatan limbah tanaman/pertanian.

Pengamatan lapangan di Nusa Tenggara  Timur (kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan) menunjukkan bahwa jumlah komponen teknologi maksimal hanya 67% yang diadopsi secara mandiri dan berkelanjutan dalam kategori cukup.

Hal ini sebagai akibat dari pemilihan komponen paket teknologi yang belum sesuai dengan kebutuhan dan keinginan peternak sapi potong.

Kegiatan diseminasi selama ini sudah mulai memberikan hasil namun belum secara maksimal meningkatkan adopsi inovasi.

Sebelum melakukan diseminasi perlu diidentifikasi secara obyektif dan cermat  kebutuhan inovasi untuk memperbaiki kinerja usaha ternak sapi potong.

Perlu juga dilakukan pelatihan-pelatihan yang intensif sehingga peternak benar-benar mampu mempraktekkannya secara mandiri baik dari segi teknis maupun finansial.

Kegiatan pendampingan/pelatihan perlu secara terpadu dilakukan oleh petugas Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang bersinergi dengan kelompok peternak, penyuluh, Penyelia Mitra Tani (PMT), petugas inseminasi buatan (IB) dan petugas satuan kerja pemerintah daerah (SKPD).

Komponen teknologi spesifik lokasi yang sangat dibutuhkan adalah introduksi hijauan pakan unggul baik di lahan milik peternak maupun di padang penggembalaan, perbanyakan sumber air, intensifikasi kawin alam dan inseminasi buatan serta pengaturan perkawinan agar kelak pedet dilahirkan pada saat tersedia pakan yang memadai.

Pencegahan dan pengobatan penyakit perlu ditingkatkan oleh pihak Dinas Peternakan setempat, terutama penyakit Septicaemia epizootica serta penyakit menular lainnya.

(Advertorial)