Kamis, 2 Oktober 2014

Bayi gajah TSI diberi nama "Euro"

Kamis, 14 Juni 2012 05:43 WIB | 5.833 Views
Bayi gajah TSI diberi nama
Ilustrasi. Bayi Gajah Sumatera Angie, seekor bayi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) bermain bersama induknya di kandang bayi gajah, Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Kabupaten Bogor, Jabar, Rabu (2/5). (FOTO ANTARA/Arif Firmansyah)
Anak gajah berkelamin jantan ini diberi nama `Euro` karena berbarengan dengan ajang sepak bola Piala Eropa 2012 yang kini sedang berlangsung."
Cisarua, Bogor (ANTARA News) - Bayi satwa gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) terbaru di lembaga konservasi "ex-situ" atau di luar habitat Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, diberi nama "Euro".

"Anak gajah berkelamin jantan ini diberi nama `Euro` karena berbarengan dengan ajang sepak bola Piala Eropa 2012 yang kini sedang berlangsung," kata Kepala Humas Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua Yulius H Suprihardo di Bogor, Kamis pagi.

Ia menjelaskan, bayi gajah "Euro" itu sebenarnya lahir pada 21 Mei 2012, dan baru bisa dilihat masyarakat luas dengan leluasa pada saat ini.

Dua bayi gajah sebelumnya yang telah lahir mendahului "Euro", adalah anak gajah sumatera pada tanggal 3 Maret 2012 berkelamin jantan bernama "Leonardo".

Sedangkan pada 25 April 2012, lahir anak gajah berkelamin betina bernama "Angie".

"Jadi hingga pertengahan tahun 2012 ini saja, Taman Safari Indonesia berhasil mengembangbiakkan tiga ekor anak gajah," katanya menambahkan.

Yulius menjelaskan bahwa gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) oleh International Union Conservation Nation (IUCN) sebuah badan dunia, termasuk ke dalam "daftar merah" dengan kriteria "endangered" (bahaya punah).

Ia juga mengatakan bahwa beberapa waktu lalu, telah terjadi "gonjang-ganjing" di mana terdapat gajah mati diracun di perkebunan kelapa sawit untuk diambil gadingnya yang bernilai ratusan juta rupiah.

Belum lagi, kasus-kasus kematian anak gajah yang diakibatkan tercebur pada lubang sumur, ataupun anak gajah diserang oleh kelompok gajah lain yang tidak menyukai kehadirannya.

Kondisi inilah, kata dia, yang membuat prihatin para pemerhati lingkungan, dan pencinta satwa.

Dikemukakannya bahwa pada tahun 1982-1985, Taman Safari Indonesia juga telah ikut andil dalam melakukan upaya penyelamatan gajah di Lebong Hitam, Sumatera Selatan.

Pada saat itu, upaya yang dilakukan adalah dengan menggiring gajah ke tempat pengungsiannya di Lebong Hitam dari habitatnya yang sudah berubah fungsi menjadi areal pertanian ke suaka margasatwa Padang Sugihan, di Lampung ke Taman Nasional Way Kambas dan Aceh melalui "Operasi Ganesha" yang diprakarsai oleh Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

Operasi gajah ini dipimpin oleh I Gede Manila, dan juga Try Sutrisno, yang pada saat itu menjabat sebagai Pangdam Jaya.

Operasi Ganesha ini berhasil dilakukan sehingga terwujud atau berdiri Pusat Latihan Gajah (PLG), sehingga sesuai azas konservasi, gajah-gajah tersebut dimanfaatkan secara lestari untuk rekreasi, menarik gelondongan kayu, membantu penanggulan pascatsunami di Aceh, dan beberapa fungsi lainnya.

Di Taman Safari Indonesia, selama kurun waktu hampir 26 tahun berdirinya, telah berhasil dikembangbiakkan gajah-gajah sumatera, yang saat ini jumlahnya mencapai 45 ekor, demikian Yulius H Suprihardo.

(A035/M026)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca