Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa mengajak para sarjana yang berlatar belakang nahdliyin balik kandang dan bersama-sama membesarkan organisasi NU.

"ISNU memanggil para sarjana NU pulang demi membesarkan NU, memajukan komunitas nahdliyin, untuk kemakmuran bangsa secara keseluruhan," kata Ali Masykur saat pengukuhan kepengurusan pusat ISNU di Jakarta, Selasa malam.

Hadir dalam acara itu Rois Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, Wakil Rois Aam KH Mustofa Bisri, dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Selain itu juga hadir Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua MK Mahfud MD, mantan Ketua KPK Taufikurrahman Ruki, dan sejumlah tokoh lain yang juga merupakan pengurus ISNU, baik di pengurus harian, dewan penasihat, atau dewan kehormatan.

Menurut Ali Masykur, ISNU memang bertekad untuk mengumpulkan "tulang-tulang" NU yang berserakan dan menjadikannya satu kekuatan.

Ali Masykur optimistis jika para sarjana NU dapat disatukan dalam ISNU, maka akan dapat berbuat banyak bagi NU dan bangsa Indonesia dengan potensi yang dimilikinya.

Dikatakannya, kalangan sarjana NU kini tidak hanya sebatas di bidang agama, namun dari berbagai disiplin ilmu. Bahkan, tidak sedikit yang sudah bertaraf ahli.

"Mereka tersebar di berbagai bidang aktivitas, ada yang berkecimpung sebagai akademisi, birokrat, pengusaha, bahkan pekerja sosial," katanya.

Lebih lanjut Ali Masykur mengatakan, NU dibangun di atas tiga pilar semangat organisasi pendahulunya yakni kebangsaan, kecendekiaan, dan kemandirian ekonomi.

Menurut dia, harus diakui bahwa pilar ketiga, yakni kemandirian ekonomi, adalah pilar NU yang paling rapuh, berbeda dengan dua pilar lainnya di mana NU justru menjadi pelopor.

"Padahal NU dengan perkiraan jumlah anggota mencapai 60 orang merupakan potensi ekonomi raksasa," kata Ali Masykur.

Jika potensi itu bisa dikapitalisasi, kata dia, maka NU akan menjelma menjadi organisasi dengan kemandirian tinggi, tidak bergantung pada anggaran negara atau hidup dari donasi ke donasi.
(T.S024/Z002)