Selasa, 2 September 2014

Wartawan Prancis tiba di tanah air

Sabtu, 2 Juni 2012 02:17 WIB | 4.494 Views
Paris (ANTARA News) - Seorang wartawan Prancis yang dibebaskan setelah ditahan 33 hari oleh pemberontak FARC Kolombia tiba di Paris, Jumat, dengan membawa surat dari penculiknya untuk Presiden Francois Hollande.

Wartawan France, Romeo Langlois ditangkap pada 28 April oleh gerilyawan bersenjata berat Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) selama bentrokan dengan pasukan pemerintah Kolombia yang melakukan penyerbuan anti-narkoba di Caqueta, sebuah daerah markas pemberontak di wilayah selatan negara itu.

Ia tiba di bandara utama Paris Roissy-Charles de Gaulle dengan penerbangan terjadwal Air France dari Bogota dan disambut oleh sejumlah pejabat yang mencakup Menteri Kebudayaan Aurelie Filippetti.

Wartawan yang berusia 35 tahun itu dibebaskan Rabu di desa hutan terpencil San Isidro dan diserahkan kepada delegasi internasional yang mencakup utusan pemerintah Prancis, perwakilan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dan aktivis perdamaian yang juga mantan Senator olombia Piedad Cordoba.

Dalam surat kepada Hollande, FARC meminta "negara-negara sahabat, khususnya negara Eropa, membantu mencapai jalan ternegosiasi untuk keluar" dari konflik Kolombia, kata Langlois pada jumpa pers di Kedutaan Besar Prancis di Bogota sebelum meninggalkan Kolombia menuju Paris.

Hollande, yang bertemu setengah jam dengan Langlois, mengatakan, ia telah menerima surat itu, yang "menjelaskan makna operasi mereka (FARC) dan meminta maaf... kepada Prancis" atas penculikan tersebut.

Ia menambahkan, "tidak ada transaksi, pertukaran dan syarat" dengan FARC bagi pembebasan Langlois.

Wartawan jaringan televisi global France 24 itu menyertai pasukan pemerintah ketika bentrokan meletus Sabtu (28/4) dengan gerilyawan FARC di wilayah selatan Caqueta, setelah pasukan menghancurkan lima laboratorium penghasil kokain yang berdekatan. Ia dikabarkan cedera di lengan dan berlari ke arah pemberontak.

Kelompok pemberontak itu menganggap Langlois sebagai "tahanan perang" karena ia mengenakan pakaian yang dikeluarkan militer dan rompi tahan peluru.

Wartawan itu hilang di tengah kekerasan yang terus berlangsung secara berkala antara pasukan Kolombia dan pemberontak FARC.

Pada Jumat (27/4), lima prajurit Kolombia tewas dalam bentrokan dengan kelompok gerilya FARC, sementara serangan terpisah terhadap sebuah kantor polisi menewaskan tiga warga sipil, termasuk seorang bayi, kata militer.

Bentrokan itu berlangsung di wilayah baratdaya di perbatasan daerah-daerah Cauca dan Valle del Cauca dan menewaskan seorang sersan dan empat prajurit, kata komandan Satuan Tugas Apollo, Jorge Humberton Jerez, kepada radio Caracol.

Di kantor polisi di kota Puerto Rico, Caqueta, pemberontak gagal membunuh polisi ketika mereka melancarkan serangan bom ke bangunan tersebut, dan ledakan itu menewaskan seorang bayi dan ibu serta ayahnya, kata seorang pejabat.

Salah satu bom menghantam rumah keluarga itu dan mengakibatkan kematian mereka, kata kepala kepolisian Caqueta, Carlos Vargas.

Pada April, 15 prajurit tewas dalam bentrokan di wilayah selatan Caqueta, sementara pada Maret, 11 prajurit lagi tewas dalam serangan di wilayah timur Arauca yang berbatasan dengan Venezuela.

Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), kelompok gerilya kiri terbesar yang masih tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. Kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964.

Pemimpin FARC Timoleon Jimenez pada April membantah bahwa usulan negosiasi dengan pemerintah mengisyaratkan gerilyawan berniat segera menyerahkan diri.

Pemimpin FARC itu mengatakan, kesenjangan kaya-miskin di Kolombia harus menjadi salah satu masalah yang dibahas dalam perundingan mendatang, demikian AFP.
(M014)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga