Senin, 22 September 2014

Haruskah berhaji bagi si fisik lemah?

Senin, 8 Oktober 2012 18:02 WIB | 3.759 Views
Haruskah berhaji bagi si fisik lemah?
Seorang calon anggota jamaah haji keloter pertama memeriksa kesehatan pada Poliklinik kesehatan di asrama haji embarkasi Padang, Sumatera Barat, Kamis (20/9). (ANTARA/Arif Pribadi)
Jakarta (ANTARA News) - Setiap tahun, bagian kesehatan haji selalu menerima anggota jamaah haji yang sakit dan berfisik lemah. Sebagian dari mereka jatuh sakit setelah tiba di Tanah Suci, tetapi tidak sedikit yang datang dengan kondisi sudah lemah sejak di Tanah Air.

Sejumlah kasus mungkin bisa menjadi bahan renungan bagi para pengambil keputusan.

Toto Amat Rejo (64) asal Sukoharjo, Solo, tiba di Jeddah dengan sakit diagnosa gagal ginjal dan meninggal dunia di Rumah Sakit King Fadh Madinah.

"Toto meninggal pada 1 Oktober pukul 04.00 waktu Saudi," kata Kasie Pelayanan Kesehatan Jeddah, dokter Ananto Prasetya.

Toto sempat dirawat di RS King Fadh Jeddah, lalu kondisinya dinilai membaik dan sudah mendapat surat rekomendasi untuk diberangkatkan ke Madinah.

Dokter Asdar Masniari Lubis mendamping penumpang keloter 1 Solo itu ke Madinah dengan ambulans.

Anggota jamaah lainnya adalah Eko Hartini (59). Dia terpaksa berangkat ke Tanah Suci dengan keloter 30 Solo dalam kondisi lemah akibat terserang stroke.

Hartini turun di King Abdul Azis Jeddah dengan menggunakan kursi roda yang didorong petugas bandara, diiringi suaminya Subagio.

Hartini terkena serangan jantung setelah Lebaran Idul Fitri sebulan sebelum berangkat. "Awalnya dia merasa kesemutan tapi diabaikan dan beraktifitas seperti biasa karena saat Lebaran banyak kegiatan yang harus dilakukan," kata Subagio.

Tiba-tiba stroke menyerang hingga membuat Hartini lemah dan tidak bisa bicara. "Dia tidak bisa bicara tetapi mampu mendengar," kata pensiunan PLN yang bermukim di Solo itu. Hartini juga pensiunan PLN dan mengakhiri pengabdiannya di institusi ini pada November 2009.

Pada 1 Desember 2009, setelah menerima surat keputusan pensiun, mereka berdua mendaftarkan diri sebagai anggota jamaah haji.

Saat pemeriksaan kesehatan, Hartini diketahui dijangkiti kanker paru. Dia menjadi sering stress jika mengingat penyakit yang diderita, lalu terbawa ke pikiran dan terkena stroke.

Subagio dan tiga anaknya sudah pasrah dan siap menerima kondisi terburuk apapun. "Alhamdulillah isteri saya masih diijinkan menjalankan ibadah haji meskipun dalam kondisi begini," ucapnya sambil berurai air mata.

Semakin banyak


Anggota jamaah haji lainnya  yang terkena stroke di Tanah Air adalah Zainal Abidin (69), tepatnya lima hari sebelum berangkat ke Arab Saudi via Jeddah. Dia mengalami pelemahan tubuh bagian kiri (hemiparase sistra) sejak di Tanah Air.

Calon haji asal Bengkulu itu semula hanya akan di CT Scan saja di RS King Abdul Azis, tetapi peraturan rumah sakit mengharuskannya dirawat.

Ananto menyatakan, Zainal sesungguhnya tidak boleh diberangkatkan ke Saudi karena dalam aturan dikatakan anggota jamaah terkena stroke hanya bisa diberangkatkan jika setelah dua minggu serangan.

Di bawah dua minggu merupakan masa observasi yang memerlukan penanganan medis.

Zainal tergabung dalam keloter 7 Padang dengan nomor pasport A 3376314.  Dia diterbangkan Garuda Indonesia bernomer penerbangan GA-3507 yang mendarat di bandara King Abdul Azis Jeddah, Jumat (28/9).

"Karena sudah tiba di Jeddah, maka kami (petugas kesehatan) menerima dan akan merawatnya. Stroke yang dialami pasien cukup serius dan selama penerbangan dalam kondisi sadar," kata Ananto.

Fenomena anggota jamaah haji yang tua, lemah dan sakit-sakit pada tahun-tahun ke depan akan semakin banyak karena masa tunggu semakin lama, yakni rata-rata 7-9 tahun.

Kondisi itu membersitkan pertanyaan, haruskah orang yang lemah, sakit tua dan tak mampu secara fisik menunaikan ibadah haji?

Selama ini persyaratan haji yang selalu dikedepankan adalah mampu secara materi dan mampu membekali mereka yang ditinggalkan.

Badal haji

Kalangan dokter mengusulkan agar mereka yang tidak mampu secara fisik hendaknya tidak memaksakan diri karena bisa mem-badal-kan (meminta pihak keluarga atau anak) untuk menggantikan ibadah hajinya.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia di Arab Saudi Syaerozi Dimyati mengatakan, pembahasan pertimbangan mampu secara fisik itu pernah dibahas oleh sejumlah ulama di Timur Tengah. Hasilnya, mereka tidak bersepakat tentang itu. Definisi sehat juga beragam.

Lalu bagaimana pendapat Syaerozi sendiri? Dia enggan mengemukakan pendapatnya karena khawatir diartikan sebagai pendapat pejabat dan pelayan haji.

Dia hanya mengutip hadis riwayat Ibnu Abbas dari al-Fadl: "Seorang perempuan dari kabilah Khats`am bertanya kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, ayahku telah wajib haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan?' Jawab Rasulullah, 'Kalau begitu lakukanlah haji untuk dia!'" (H.R. Bukhari, Muslim dll.).

Hadis itu menunjukkan, anak bisa menggantikan orangtua untuk berhaji, kata Syaerozi. Yang kedua, hadis itu juga menyatakan orang yang sudah tua atau lemah tidak wajib berhaji dan bisa digantikan oleh anaknya.

Menurut dia, terserah kesepakatan ulama Indonesia. Jika fatwanya boleh dibadalkan, maka harus disosialisasikan kepada masyarakat tentang ketidakmampuan secara fisik tersebut.

Namun, meskipun fatwa calon anggota jamaah harus memiliki fisik yang fit itu dijalankan dan praktik badal bagi yang sakit dan lemah dianjurkan, tetapi pada pelaksanaannya tidak akan mudah karena diperlukan keluwesan adminstrasi agar setiap calon jamaah yang sudah mendaftar lalu sakit atau lumpuh bisa digantikan oleh anaknya yang sehat dengan segera.

Artinya, sang anak tidak menanti lama (tidak harus masuk dalam daftar tunggu yang menahun) dan visanya bisa terbit saat musim haji tiba.

Di sisi lain, badal juga memiliki pemahaman yang berbeda. Syariat mengatakan orang yang melakukan badal harus sudah berhaji.

Lalu, bagaimana jika anak yang akan membadal belum berhaji? Dia harus berhaji dahulu tahun ini lalu membadalnya pada musim haji berikutnya.

Artinya, harus ada dua kesempatan berhaji agar dia bisa melakukan badal.

Jika mengacu pada kondisi saat ini, dia harus menanti tujuh tahun lagi karena rata-rata masa tunggu saat ini 7-9 tahun. Segala sesuatu bisa terjadi dalam masa penantian yang panjang itu.

Badal haji
ternyata tidak sederhana jika ditarik kepada konteks kondisi penyelenggaraan haji Indonesia saat ini.

Namun. semua akan jelas acuan pikirnya jika dikembalikan pada syarat haji, bahwa berhaji itu wajib bagi mereka yang mampu. Tidak hanya mampu finansial tetapi juga mampu secara fisik, maka semuanya menjadi jelas.

Artinya, tidak wajib berhaji bagi seseorang yang mampu secara finansial tetapi tidak mampu secara fisik.

(E007/Z002) 

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga