Rabu, 30 Juli 2014

Gerakan Mukena Bersih: bukan sekedar mencuci

Rabu, 6 Juni 2012 21:05 WIB | 6.292 Views
Gerakan Mukena Bersih: bukan sekedar mencuci
Warna-warni mukena Gerakan Mukena Bersih (gerakanmukenabersih.blogspot.com)
Jakarta (ANTARA News) - Prihatin dengan kondisi mukena di masjid dan mushola umum, Gita Saraswati menggagas Gerakan Mukena Bersih (GMB), program pembelajaran nilai-nilai Islami melalui penyediaan mukena bersih di tempat ibadah umum.

"Menyuarakan nilai Islam," katanya. Nilai universal Islam yang ditekankan oleh Gita adalah kebersihan. Ia memulai edukasi kepada masyarakat melalui hal yang paling sederhana, yaitu kebersihan pada mukena.

"Mau jalan-jalan saja kita bersih, masa menghadap Allah nggak," kata Gita.

Ia heran karena hal yang paling mudah diterapkan saja, orang sering abai. Padahal, menurutnya, kebanyakan orang lebih sering shalat di luar rumah. "Hampir selalu kita shalat dalam keadaan marah-marah. Karena mukena kotor, salat jadi nggak khusyuk," jelasnya.

Ia berharap GMB dibantu para relawan yang kini jumlahnya hampir 600, mampu mengajak pengguna masjid atau mushola umum untuk menjaga kebersihan fasilitas ibadah, khususnya mukena.

"Kami mencuci mukena sendiri (yang ada cap GMB di belakang). Harapannya orang lain yang melihat mukena GMB bersih, jadi tergerak untuk menjaga kebersihan mukena lainnya. Kami trigger, menggerakkan  masyarakat," kata Gita.

GMB didirikan 27 Desember 2007 merupakan organisasi nirlaba yang kegiatan utamanya adalah pengadaan dan pemeliharaan mukena di tempat-tempat ibadah umum yang mudah dijangkau oleh para relawannya.

Untuk pengadaan mukena, kata Gita, mereka menerima donasi dari institusi maupun pribadi. "Tapi lebih banyak pribadi," katanya.

Gita kadang menolak pendanaan dari institusi karena mereka meminta logo perusahaan ditempelkan.

Hal yang khas dari GMB, lanjut Gita, bila ada yang ingin menyumbang dalam jumlah besar, ia akan meminta donatur tersebut untuk memberikannya bertahap sehingga sumbangan bersifat terus-menerus.

"Jangan sekaligus, lalu besok sudah lupa," kata Gita. Ia ingin agar donatur memiliki keterikatan dengan GMB.

Relawan GMB

Gita yang berusia 41 tahun dibantu para relawan demi mewujudkan tujuan GMB.

"Relawan kami ada di 39 kota, jumlahnya jalan 600," kata Gita.

Sugiarti, staff administrasi GMB menambahkan bahwa relawan tidak hanya di pulau Jawa. "Di luar Jawa juga ada. Antara lain Batam, Bali, Lampung, Balikpapan, NTB, dan Sulawesi Utara," katanya.

Relawan yang mendaftar akan mendapatkan satu paket berisi 4 set mukena, sebuah poster, dan surat keterangan untuk masjid atau mushola yang dituju.

Mukena tersebut diberi cap GMB di bagian belakang untuk membedakannya dari mukena lain. Mukena-mukena GMB berwarna-warni, nuansa pastel. "Kalau putih nanti cepat kotor karena ditaruhnya di tempat umum," kata Sugi.

Satu relawan hanya akan mendapat satu paket. "Jika lebih dari itu, nanti tidak terurus," kata Sugiarti. Dalam akad, dijelaskan mukena minimal dicuci minimal seminggu sekali, bila perlu dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Para relawan diminta untuk meletakkan mukena di tempat ibadah yang lokasinya mudah mereka jangkau. "Supaya lebih mudah mengurusnya," kata Gita.

Menjadi relawan di GMB tidak memandang usia. Relawannya ada yang masih duduk di sekolah dasar hingga berusia 70 tahun.

Relawan GMB pun tidak sebatas perempuan, laki-laki juga dapat ikut berpartisipasi. "Jumlahnya nggak sampai sepuluh persen," kata Gita.

Kepada relawan, Gita sangat menekankan aspek amanah. Mereka menjadi relawan karena merasa sanggup menjalankannya. Bila relawan merasa tidak sanggup menjalankan amanah, mukena dapat dikembalikan ke GMB. "Tapi kami sarankan bagi yang tidak sanggup menjalankan amanah untuk mencari pengganti. Tentu, harus konfirmasi ke kami," jelasnya.

Setiap relawan diharapkan berpartisipasi selama setahun, lebih dari setahun semakin baik. Setelah setahun, mukena yang mereka pegang dapat dikembalikan dan diganti dengan yang baru bila kondisi sudah tidak layak.

"Bila ada mukena yang rusak atau hilang, relawan boleh meminta lagi. Kami tidak meminta mereka untuk mengganti," kata Gita.

Ia pun tidak memungut iuran dari relawan. "Mencuci mukena sudah lebih dari iuran," tandasnya.

Pengalaman pribadi

Gita tertarik mendirikan GMB setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan saat menunaikan shalat di tempat ibadah umum.

Ketika ia shalat di sebuah masjid besar di Jakarta, ia yakin telah mengambil mukena yang paling bersih. Usai shalat, ia berdoa. Selesai berdoa, ia menyadari ada kotoran yang melekat di mukena itu.

"Nggak tanggung-tanggung, ingus kering," ceritanya.

Ia kaget mendapati dirinya menghadap Tuhan dalam kondisi seperti itu. Kejadian itu sangat membekas pada dirinya.

Ia lalu bertekad untuk membersihkan mukena-mukena di tempat ibadah terdekat. "Sempat nyuciin, sendiri, yang dekat dengan rumah," katanya.

Namun lama-lama ia merasa tidak sanggup menjalankannya sendirian. "Masak yang bersih hanya yang di sini, bagaimana dengan mukena di tempat lain", begitu pikirnya waktu itu.

Setelah berkonsultasi dengan keluarga dan teman-temannya, ia memutuskan untuk mendirikan GMB.

Dalam mengelola GMB, ia menerapkan asas saling percaya. Ia mengakui pada awal berdiri, ia mengadakan evaluasi kepada relawan.

"Tapi percuma, kan bisa bohong," katanya. Ia menginginkan relawan mengerjakan tugasnya bukan semata-mata kewajiban terhadap GMB namun atas kesadaran dan tanggung jawab masing-masing individu.

(Nta)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga