Jakarta (ANTARA News) - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menjelaskan penerimaan dari bea keluar pada periode Januari--Mei 2012 menurun karena peralihan komoditi ekspor dari minyak kelapa sawit (CPO) menjadi RBD Palm Olein.

"Pencapaian penerimaan bea keluar sebesar Rp8,98 triliun berada di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2012 yang sebesar Rp9,66 triliun," kata Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Kushari Suprianto saat diskusi bersama wartawan di Bogor, Ahad.

Jumlah tersebut baru mencapai sekitar 92,90 persen dari target penerimaan bea keluar dalam APBN-P pada periode tersebut.

Bila diukur secara tahunan, penerimaan itu mencapai 38,71 persen dari APBN-P dengan keseluruhan target tahunan sebesar Rp23,20 triliun.

Menurut Kushaeri, peningkatan tarif biaya keluar atas ekspor turunan CPO yang rendah, sekitar enam hingga delapan persen, memicu peningkatan ekspor turunan CPO khususnya RBD sebesar 85,08 persen selama triwulan I-2012.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bea Cukai Agung Kuswandono, mengatakan pendapatan dominan bea keluar terbesar dari CPO, dengan tarifnya sekitar 29 persen.

"Tapi begitu diolah dari CPO menjadi RBD atau `refine deodorized bleach` maka tarif bea keluarnya menjadi lebih rendah karena sudah ada nilai tambah di luar negeri," jelas Agung.

Agung menjelaskan sebesar 85 persen RBD telah diolah di dalam negeri, sehingga bea keluar tidak akan mengganggu pasokan produk turunan CPO di dalam negeri.

Guna kembali meningkatkan penerimaan dari bea keluar, maka DJBC akan menguatkan pemeriksaan di pelabuhan melalui pemeriksaan jumlah pengiriman turunan produk CPO seperti RBD yang akan dikirim ke luar negeri.

"Pelabuhan yang paling banyak mengeluarkan CPO maupun RBD berada di wilayah pantai timur Sumatera seperti Dumai dan Teluk Nibung serta sejumlah pelabuhan lain dan DJBC akan perkuat pengawasan di wilayah tersebut," tegas Agung.
(T.B019/A011)