Minggu, 26 Oktober 2014

Gelar adat Minang untuk Syamsul Maarif

| 6.763 Views
id ketua bnpb, syamsul maarif,
diberi uang tak akan diterima, diberi rendang mungkin akan habis, tapi gelar Sangsako Adat Minangkabau diberi tentu cukup bernilai"
Batusangkar (ANTARA News) - Hari itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengenakan baju adat kuning, desta yang juga berwarna kuning, sarung tenun kuning emas berlatar hitam serta kacamata putih.

Kuning adalah warna kerajaan, sedangkan desta adalah ikat kepala.

Di sisi Syamsul ada sang istri, Nanik Kadariyani, mengenakan busana yang senada dengan hiasan kepala kain bagonjong.

Didampingi Gubernur Iwan Prayitno dan tokoh Minang Azwar Anas, mantan Gubernur Akmil itu menjalani prosesi adat penerimaan gelar Sangsako Adat Minangkabau di Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar.

Gelar ini diberikan kepada orang luar Minang yang dihormati dan berjasa.  Ini tidak bisa diwariskan kepada keturunan si penerima gelar.

Sudah pukul 10.30, Matahari cerah bersinar. Desta mantan Menteri Perhubungan Azwar Anas pun berkilat.

Meski begitu, udara terasa sejuk. Awan kelabu mewarnai langit, sementara angin berhembus sepoi-sepoi.

Musik tradisional merentak, diimbuhi rampak gendang atraktif, sedangkan penari berpakaian merah dan hitam bergerak ritmis menarikan pasambahan.

Petatah petitih diucapkan silih berganti dengan rima pantun menyambut kedatangan Syamsul.

Hari ini, Minggu (30/6), adalah hari bersejarah bagi lelaki kelahiran Kauman, Gurah, Kediri, Jawa Timur, 27 September 1950 itu.

Masyarakat Minang mengangkatnya menjadi mamak (paman) dan menganugerahinya gelar Yang Dipatuan Rajo Maulana Paga Alam, sementara sang isteri digelari Puti Reno Anggun Suri.

Sepenuh hati

Hubungan Mayjen TNI (Purn) Syamsul Maarif dengan Sumatera Barat sudah dekat sejak dia menjabat Asisten Teritorial pada 2004-2006.

Kedekatan itu semakin lekat ketika dia menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Sumatera Barat beberapa kali diguncang gempa.  Terakhir, gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter yang menghancurkan gedung dan rumah, menewaskan 1.214 orang, dan membuat 1.688 lainnya luka-luka.

Bencana ini membuat Syamsul harus bolak balik Jakarta-Sumbar.

Kedekatannya, keseriusannya menguat hati urang Minang untuk menerimanya sebagai "orang sendiri." Orang yang menyisingkan lengan bajunya, bekerja sepenuh hati menanggulangi bencana dan berbagi duka dengan masyarakat.

Satu yang tak bisa dilupakanya ketika seorang ibu menangis menghiba menanti ditolong karena dua anaknya terjepit di gedung yang runtuh.

Pengalaman dan analisis kerja menjadikannya berkesimpulan, secepat-cepatnya pertolongan didatangkan, tetaplah yang paling cepat menolong adalah masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, mendidik masyarakat menghadapi bencana adalah prioritas utamanya.

Pertolongan pertama masyarakat sekitar adalah strategi jitu dalam meminimalkan  dampak bencana.  Proses berikutnya adalah bantuan secepatnya dari tim penanggulangan bencana.

Sejak diangkat menjadi Kepala BNPB pada 2008, Indonesia diguncang bencana silih berganti; gempa di Sumbar, tsunami di Mentawai, erupsi Merapi, banjir badang Wasior dan erupsi Bromo.

Penanganan yang lugas, tegas dan memecah hambatan birokrasi darinya, membuat Indonesia mendapat penghargaan Global Champion on Disaster Risk Reduction dari PBB pada 2011.

Azwar Anas menilai Syamsul layak mendapat kehormatan gelar adat, tidak hanya karena kepeduliannya pada Sumbar, tetapi juga pada masyarakat lainnya.

Dia mengimbau masyarakat Minang menjaga nama baik Mamak (Syamsul) dan Mintuo (Nanik), sebaliknya Syamsul diharapkannya kian meningkatkan kepeduliannya kepada masyarakat Minang.

Azwar juga meminta Pemda Sumbar untuk meneliti dan mengimbau warganya untuk menerapkan teknologi konstruksi rumah tradisional Minang yang terbukti tahan gempa.

Pada sejumlah kasus, rumah-rumah tradisional dan rumah gadang memang tetap tegak meski gempa meluluhlantakkan gedung-gedung beton.

Utang budi

Prosesi pemberian gelar sangsako itu dimulai dari tahap "Pati Ambalau" atau sumpah janji di INS Kayutanam pada 28 Juni 2012.

Wakil Gubernur Sumbar yang juga Ketua Panitia Penobatan, Muslim Kasim, menjelaskan pemberian gelar sudah menempuh dua tahap, yaitu tahap penjajakan (marosok) dan tahap menanyakan kesediaan pihak penerima gelar (marantak tanggo).

Prosesi pengajuan gelar dimulai ketika tim Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau bertandang ke kediaman Syamsul Maarif di Depok, Jawa Barat.  Syamsul menyetujui pemberian gelar itu.

Gelar Sangsako Adat Minangkabau diberikan kepada Kepala BNPB karena masyarakat Minang merasa berutang budi kepadanya, selain dia menunjukkan kepedulian luar biasa kepada Ranah Minang.

"Kita merasa berutang budi kepada Pak Syamsul. Cara membalasnya kalau diberi uang tak akan diterima, diberi rendang mungkin akan habis, tapi gelar Sangsako Adat Minangkabau diberi tentu cukup bernilai," kata Muslim.

Gubernur Sumbar Iwan Prayitno menyatakan konsekwensi dari penganugerahan itu adalah masyarakat Minang harus mendahului Syamsul selangkah dan meninggikannya seranting.

Dalam sambutannya, dalam bahasa Minang, Symasul mengungkapkan mengagumi adat istiadat suku di pesisir barat Sumatera itu. Dia mengaku sudah sejak lama menautkan diri pada suku ini. Perhelatan hari ini disebutnya hanya peresmian atau formalitas atas kedekatan itu.

Dia juga mengagumi para pemimpin Minang. Dia kagum pada Agus Salim, Muhamad Natsir, Muhammad Hatta, Buya Hamka dan Azwar Anas yang kini sudah 81 tahun.

Dia berharap kepemimpinan dari Minang tidak kering.  "Hal itu tergantung pada kaum muda untuk menjawab tantangan jaman. Nasib ada di tangan kaum muda," kata Syamsul.

Matahari bersinar cerah. Sinarnya menjilati delapan ujung lancip atap Istana Pagaruyuang. Sudah pukul 13.30 ketika doa penutup dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa dalam balutan bahasa Minang, Arab dan Indonesia.

E007/Z002

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga