Yogyakarta (ANTARA News) - Tim Universitas Gajah Mada Yogyakarta menemukan adanya dugaan praktik perjokian pada ujian masuk seleksi program internasional Fakultas Kedokteran yang dilaksanakan di kampus setempat, Jumat.

"Tim Universitas Gadjah Mada (UGM) juga mengamankan barang bukti 52 telepon seluler yang diduga digunakan untuk melakukan kecurangan dalam ujian tersebut," kata Direktur Administrasi Akademik (DAA) UGM Budi Prasetyo Widyobroto.

Menurut dia, dugaan adanya praktik perjokian bermula dari kejelian panitia saat sesi pertama ujian.

Berdasarkan prosedur pelaksanaan ujian, panitia melakukan penggeledahan, dan ditemukan telepon seluler yang telah dirangkai dengan kabel.

"Ketika semua alat komunikasi diminta diletakkan di depan, ada gerak-gerik seseorang yang mencurigakan, kemudian kami geledah, dan ditemukan alat komunikasi yang sudah dirangkai dengan kabel," katanya.

Ia mengatakan temuan itu kemudian dilanjutkan dengan penggeledahan pada semua peserta yang tersebar di tujuh ruangan. Saat penggeledahan, ditemukan barang bukti serupa di semua ruangan hingga mencapai 40 buah.

"Total 400 peserta ujian yang digeledah, dan ditemukan 52 telepon seluler rakitan yang saling terhubung. Semuanya kami sita, termasuk kartu pendaftaran dan barang bukti," katanya.

Namun, kata dia, peserta bersangkutan masih diizinkan mengikuti ujian. Setelah ujian, 52 peserta diserahkan ke Polres Sleman untuk ditindak secara hukum, tetapi ada empat orang yang kabur.

"Kami menduga perjokian tersebut tidak hanya melibatkan individu, tetapi merupakan sindikasi besar, karena panitia sempat mendengarkan instruksi yang ada pada barang bukti telepon seluler, dan jelas ada yang mengomando. Ada dua tipe praktik perjokian yang dilakukan, yakni lewat SMS, dan telepon," katanya.

Ia mengatakan belum mengetahui apakah sindikasi itu melibatkan orang dalam UGM. Namun demikian, jika dalam penyelidikan terbukti melibatkan mahasiswa UGM, akan diberi sanksi akademik, sedangkan bagi peserta dipastikan gugur dalam seleksi tersebut.

Pihaknya akan terus mendalami kasus itu, termasuk apakah ada pola yang mendaftarkan orang-orang tertentu. Kami akan menangani dari sisi akademik, sedangkan proses hukum diserahkan kepada polisi.

"Namun, ujian tidak akan diulang, dan mereka yang tidak terlibat akan tetap diizinkan mengikuti ujian selanjutnya," katanya.

Rektor UGM Pratikno mengatakan terungkapnya adanya indikasi perjokian itu berkat kejelian dari pengawas, dan panitian ujian.

"Kami akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Mereka yang diduga terlibat praktik perjokian akan diproses secara hukum, dan kami percayakan aparat kepolisian untuk menangani kasus tersebut," katanya.(B015*H010/M008)