Rabu, 30 Juli 2014

Indonesia-Jepang rintis kerja sama riset penginderaan jauh

Rabu, 8 Agustus 2012 10:18 WIB | 3.629 Views
Indonesia-Jepang rintis kerja sama riset penginderaan jauh
Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta. (ANTARA)
Bandung (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Jepang merintis kerja sama pengembangan riset bidang teknologi penginderaan jauh atau remote sensing melalui program "Indonesia-Japan Joint Airborne Pi-SAR-L2 Campaign."

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta meresmikan permulaan program tersebut di hanggar Fix Wing CN-235 PT Dirgantara Indonesia Bandung, Rabu, dalam rangkaian peringatan Hari Teknologi Nasional.

"Program ini melibatkan peneliti, lembaga penelitian dan perguruan tinggi, tujuannya menuju penguasaan teknologi penginderaan jauh yang akan memegang peranan penting di masa depan," kata Gusti.

Dalam hal ini, lembaga-lembaga riset Indonesia dan Japan Aerospace and Exploration Agency (JAXA) akan melakukan berbagai kegiatan dalam program yang ditujukan untuk menguji-kaji sensor dan sistem PALSAR untuk satelit Advanced Land Observation Satellite (ALOS-2) sebelum diluncurkan pada November 2013 oleh JAXA.

Lingkup program tersebut meliputi pemantauan biomasa hutan, deteksi kapal, pemantauan untuk mitigasi bencana alam, evaluasi geometrik untuk menguji ketelitian citra radar dan pemantauan tanaman untuk memperkirakan biomasa tanaman padi.

Menteri Riset dan Teknologi mengatakan pemerintah berkomitmen mendukung program pengembangan alih teknologi kedirgantaraan untuk penguatan industri.

"Penguatan teknologi penginderaan jarah jauh salah satunya, karena melalui penginderaan maka akan dihimpun informasi geospasial yang dibutuhkan untuk pengembangan ekonomi," katanya dalam acara yang dihadiri ilmuwan dari kedua negara itu.

Sementara Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yosinori Katori, mengatakan kerja sama alih teknologi penginderaan jauh akan memberikan keuntungan bagi Indonesia maupun Jepang.

"Kerjasama ini merupakan salah satu yang dilakukan antara Pemerintah Indonesia dan Jepang yang sangat penting dan strategis bagi kedua belah pihak," katanya.

Menurut Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang SDA, Ridwan Djamaludin, misi alih teknologi penginderaan jauh sudah dimulai pada 4 Agustus lalu dengan menerbangi hutan Riau; pemotretan Gunung Krakatau; pemotretan dan pemetaan hutan dan lahan gambut; serta pemotretan udara Gunung Gamalama di Halmahera Utara.

Program alih teknologi itu merupakan awal dari kegiatan yang lebih besar dan strategis dalam Pembangunan Sistem Satelit Pengindera Bumi Indonesia (Ina-SAT) dan Sistem Informasi Kebumian Indonesia (Indonesia Information Earth Observation Center/Ina-ICEO) dalam kerangka Konsorsium Nasional yang melibatkan setiap institusi terkait di Indonesia.

(S033)




Editor: Maryati

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Top Stories