Jumat, 24 Oktober 2014

Indonesia bisa mandiri dalam komponen alat perang

| 5.272 Views
id pertahanan nasional, industri pertahanan, kapal perang, pt pindad
Indonesia bisa mandiri dalam komponen alat perang
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, melihat Anoa pesanan TNI saat kunjungan ke PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Minggu (7/8). Kendaraan angkut personel militer ini juga dipakai dalam misi TNI di Lebanon dan diakui memiliki sejumlah keunggulan dibanding produk serupa lansiran negara mapan industri pertahanan, di antaranya Perancis dan Inggris. (FOTO ANTARA/Dhoni Setiawan)
... banyak material berasal dari sumber daya alam kita, salah satunya material untuk anti radar...
Bandung (ANTARA News) - Peluang penggunaan material dalam negeri sebagai komponen arsenal militer Indonesia jadi satu topik menarik dalam fokus grup diskusi Pengembangan Kapal Perang, Radar dan Roket, yang digelar di PT Pindad (Persero), di Bandung, Rabu.

"Cukup banyak material berasal dari sumber daya alam kita, salah satunya material untuk anti radar," kata Ketua Konsorsium Pengembangan Kapal Perang dari ITS, Dr Mochamad Zainuri, dalam diskusi itu, Rabu.

Sejumlah industri penunjang pengembangan produk alat perang, kata Zainuri bisa dioptimalisasi produksinya sehingga bisa memenuhi kriteria dan standar material untuk alat perang.

Diskusi dibagi dua kelompok, yakni kapal perang dan radar nasional, serta kelompok diskusi roket nasional. Hampir semua pemegang kepentingan pertahanan, ilmu pengetahuan dan riset, serta militer nasional urun serta dalam diskusi itu. 

"Kisah sukses kebangkitan teknologi ditandai penerbangan perdana pesawat N-250 pada 1995 diharapkan terus berlanjut ke depan. Anak bangsa bisa membuat pesawat, kapal perang, radar dan peluru kendali untuk memenuhi kebutuhan pertahanan negara," kata Dr Teguh Raharjo, ahli penerbangan.

Dia menegaskan keperluan semangat kolektivitas dan sinergitas antar industri strategis di Indonesia dalam pengembangan produk.

"Mutahil satu lembaga dapat mengembangkan produk besar dari hulu sampai hilir sekaligus, jelas itu perlu dilakukan bersama-sama melalui sinergitas," katanya.

Sementar itu Kepala Badan Kesbang Litbang Kementerian Pertahanan, Prof Eddy Siradz, meminta para periset fokus pada pengembangan teknologi.

"Dalam pengembangan kapal perang, konsorsium fokus dulu pada pengembangan dan teknologi. Jangan dulu ke persenjataan karena itu perlu biaya cukup besar, komponen perenjataan itu sekitar 60 persen dari kapal perang," katanya. (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga