Jumat, 31 Oktober 2014

Menteri ESDM diminta batalkan rencana ekspor LNG tangguh ke Jepang

| 4.401 Views
id Kilang Tangguh, ekspor gas, Kurtubi, Bobby A. Rizaldi
Menteri ESDM diminta batalkan rencana ekspor LNG tangguh ke Jepang
Bobby A. Rizaldi.
"Kalau ini juga diekspor ke Jepang, maka ini skandal besar."
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar, Bobby A. Rizaldi, meminta, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, membatalkan rencana ekspor gas alam cair (LNG) dari Kilang Tangguh, Papua, ke pembeli Jepang.

Menurut Bobby di Jakarta, Jumat, dirinya mendapat informasi adanya notulensi rapat yang menyebutkan rencana ekspor LNG Tangguh, yang sebelumnya dialokasikan untuk Sempra Energy, Amerika Serikat (AS), ke pembeli Jepang.

"Memang masih berupa notulensi rapat. Namun, kalau sampai ada kesepakatan setelah itu maka DPR akan protes keras," ucapnya.

Ia mengatakan, rapat yang berlangsung di London, Inggris, tersebut dihadiri pula Menteri ESDM, Jero Wacik, dan Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo, saat berkunjung ke negara itu.

Sesuai notulensi rapat, BP selaku pengelola Tangguh, diketahui akan mengekspor LNG eks Sempra itu ke pembeli Jepang mulai 2013 hingga 2035 dengan volume sekitar 16 kargo per tahun.

Menurut Bobby, konsumen domestik seperti industri dan PLN sekarang ini tengah berteriak kekurangan gas, sehingga tidak pantas pemerintah mengeskpornya.

"Kalau memang permasalahan ke domestik adalah harga atau infrastruktur, maka pemerintah mesti mencari solusinya segera. Jangan lantas dibiarkan negosiasi secara B to B," ujarnya.

Ia mengatakan, pemerintah harus aktif mencari solusi agar gas bisa dimanfatkan di dalam negeri.

Kalaupun tidak bisa untuk domestik dalam waktu dekat, maka kontrak ekspor mestinya dalam volume kecil dan berjangka pendek, yakni satu hingga dua tahun.

Apalagi, lanjut Bobby, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah bertekad mengurangi ekspor gas dan lebih mendahulukannya ke dalam negeri.

"Kenapa sekarang LNG Tangguh ini malah mau diekspor?" katanya.

Ia mengemukakan, kasus ekspor LNG Tangguh ke China yang berharga murah sampai sekarang saja belum ada solusinya.

"Kalau ini juga diekspor ke Jepang, maka ini skandal besar," ujarnya.

Hal senada dikemukakan pengamat energi, Kurtubi. Menurut dia, pengelolaan kilang LNG Tangguh memang sejak awal bermasalah, sehingga merugikan negara.

"Jangan lagi ditambah dengan rencana ekspor ke Jepang," kata Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) itu.

Pemerintah, lanjutnya, harus mengutamakan kepentingan domestik terlebih dahulu.

Apalagi, selama ini, LNG Tangguh belum sedikitpun memberikan porsi domestik (domestic market obligation/DMO).

"Ini melanggar ketentuan," ujarnya
(T.K007/C004)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga