Selasa, 21 Oktober 2014

Forum eDemokrasi, dari alumnus ITB untuk Pilkada DKI

| 2.314 Views
id forum edemokrasi
Forum eDemokrasi, dari alumnus ITB untuk Pilkada DKI
Website Forum eDemokrasi (www.fedjakarta.org)
Ini bisa jadi bukti yang tidak terbantahkan. Orang masyarakat sendiri yang memfotonya."
Jakarta (ANTARA News) - Jika 7.000 alumnus Institut Teknologi Bandung bergabung, tentu ada sesuatu yang luar biasa.  Mereka bergabung dalam Forum eDemokrasi, disingkat FeD, untuk mengawasi pelaksanaan pemungutan hingga penghitungan suara Pilkada DKI.

Ketua Forum eDemokrasi atau disingkat FeD, Radhar Trisaksono  menjelaskan bahwa ide gebrakan baru setelah putaran pertama Pilkada DKI.

"Idenya muncul justru setelah putaran pertama,  wujudnya melalui  eTSP atau elektronik Tabulasi Suara Panwaslu," kata Radhar saat dihubungi Antaranews.

Disebut tabulasi, menurut Radhar karena FeD memang hanya menjadi sebuah wadah untuk menampung data sehingga memudahkan pengawasan.

"Kami tidak menyediakan e-counting memang," kata Radhar.

Sistem kerja yang digunakan oleh FeD adalah memasukkan foto formulir C2 serta teks dan lokasi foto ke server yang sudah disediakan.

Kemudian foto tersebut nantinya bisa diakses oleh masyarakat luas.

"Karena formulir C2 memang wilayah publik," kata Radhar.

Untuk memastikan keabsahan foto tersebut, FeD merekrut relawan untuk ditempatkan di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Radhar berharap bisa mendapatkan relawan sesuai dengan jumlah TPS yakni 15.059 TPS. Radhar menyasar kelompok mahasiswa untuk dijadikan relawan.

Alasan pemilihan mahasiswa sebagai relawan diakuinya cukup sentimentil.

"Mahasiswa kan dulu yang ingin reformasi, kini mahasiswa juga harus mendampingi proses demokrasi tersebut," katanya.

Karena bersifat sukarela, Radhar mengatakan, relawan yang mendaftar memang tidak diberikan fasilitas, ongkos, bahkan konsumsi.

"Makanya kami pastikan bahwa relawan akan bertugas di tempat dia memberikan hak pilihnya. Jadi kan tidak perlu biaya tambahan," kata Radhar.

Para relawan terdaftar tersebut memiliki beberapa pilihan untuk mengirim hasil foto serta teks berupa hasil perhitungan per TPS.

Radhar menyebutkan, untuk relawan pengguna handphone pintar seperti Android, Blackberry atau Apple bisa mengunduh aplikasi yang mereka namai eTSP.

"Aplikasi dibuat user friendly," kata Radhar.

Penggunaannya mudah serta dalam bahasa Indonesia. Dalam aplikasi tersebut disediakan lokasi TPS tempat dia mengambil foto.

Menurut Radhar, aplikasi ini dilengkapi dengan Global Positioning System (GPS) untuk memastikan ketepatan lokasi TPS.

"Kami lengkapi juga dengan GPS. Jadi kami bisa periksa lokasinya, benar ada TPS atau tidak," katanya.

Sedangkan pengguna selain handphone pintar, Radhar mengatakan bisa menggunakan sistem Multimedia Message Service (MMS) untuk mengirim hasil jepretan formulir C2 serta teks.

Radhar mengatakan bahwa, relawan harus mengirimkan tiga buah data. Yakni foto formulir C2, foto relawan di depan TPS tempat dia bertugas serta teks yang berisi hasil penghitungan suara di TPS tersebut.

"Kalau foto relawan itu untuk memastikan bahwa dia memang ada disana. Sekaligus ajang untuk para relawan narsis," katanya.

Meski FeD merekrut relawan, Radhar mengaku, para masyarakat yang ingin ikut berpartisipasi bisa juga ikut mengirimkan foto. Namun hasil foto tersebut tidak dijadikan sebagai sumber utama. "

Nanti hasil foto masyarakat kami jadikan sebagai balancing data yang kami miliki dari relawan," katanya.

Selain itu, hasil foto dari rakyat juga bisa dijadikan bukti jika ada perbedaan perhitungan di tingkap KPU DKI nanti.

"Ini bisa jadi bukti yang tidak terbantahkan. Orang masyarakat sendiri yang memfotonya," kata Radhar.

Proyek gotong royong Membuat sebuah tabulasi elektronik bukan perkara mudah.

Apalagi rencananya, tabulasi tersebut akan 'diserbu' oleh lebih dari 15ribu foto serta teks.

Dibutuhkan sebuah server yang mampu menampung 'serbuan' foto tersebut.

Namun Radhar mengatakan sudah menyiapkan server untuk eSTP dan kapasitasnya bahkan sudah mencapai terabyte. "Kami sudah punya, bahkan hingga Terabyte," katanya.

Menurutnya, kesediaan server hingga kapasitas tersebut tidak lepas dari peran semua anggota FeD di seluruh dunia.

Radhar juga mengatakan bahwa ketersediaan server ini sama sekali tidak mengeluarkan biaya karena anggota secara sukarela menyumbangkan server miliknya untuk digunakan.

"Kita ini proyek gotong royong," katanya.

Tidak hanya server, bahkan aplikasi serta web dan keamanan websitenya sendiri juga merupakan hasil bantuan dari anggota FeD.

"Kalau ada yang jago bikin sistem, dia bikin. Ada yang jago sistem security-nya dia yang bikin," kata Radhar. Radhar menyebutnya dengan proyek gotong royong, dari komunitas untuk komunitas.

(dny)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca