Jumat, 22 Agustus 2014

Asap hilang, banjir pun mengintai di peta bencana

Senin, 22 Oktober 2012 00:13 WIB | 3.824 Views
Pekanbaru (ANTARA News) - Musim hujan telah tiba. Terik berganti mendung, selimut asap bergeser menjadi gerumul awan hitam. Tiupan angin kian menyejukkan, namun gemuruh halilintar disertai kilat mewarnai kegelapan ketika listrik PLN kembali `biarrrr pet`.

Musim hujan merupakan musim yang senantiasa dinanti ketika kemarau mendera sejumlah wilayah Tanah Air, di mana kekeringan menyebabkan tanaman melayu dan membusuk, bahkan hingga kelangkaan air bersih tidak jarang menyebabkan wabah diare meluas.

Namun tidak dipungkiri, hujan berlebih terkadang menjadi momok menakutkan karena bisa mendatangkan banjir serta longsor di daerah rawan.

Analis Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika Stasiun Pekanbaru, Riau, Warih Budi Lestari, Minggu (21/10), menyatakan memasuki akhir Oktober 2012, sebagian besar wilayah `Bumi Lancang Kuning` itu tengah memasuki musim basah, atau bahasa awam musim penghujan.

"Dari hasil monitoring citra satelit awan, analisa streamline dan kondisi fisis serta dari dinamis udara, pada umumnya cuaca di wilayah Riau cerah hingga berawan. Intensitas hujan pun berpeluang terjadi sore hingga malam hari," katanya.

Warih menjelaskan, kondisi demikian telah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir, namun jelang penghujung Oktober, intensitas hujan kian meningkat.

Peluang hujan dengan intensitas volume ringan sampai sedang, terjadi di hampir merata, namun keutamaan berada di Riau bagian Barat, seperti Kampar dan Pekanbaru.

Sedangkan hujan dengan intensitas ringan berpotensi `mengepung` Riau bagian Timur, Utara, dan Selatan, seperti Kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Bengkalis, Rokan Hulu, dan Rokan Hilir, serta sejumlah wilayah kabupaten/kota lainnya.

Warih pun menjelaskan, bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang bahkan deras berpotensi terjadi di setiap waktu, baik pagi, siang maupun malam.

Namun untuk dominasinya, kata Warih, berpotensi terjadi pada waktu sore atau pada malam hari, dan angin umumnya bertiup dari arah Barat Daya sampai dengan Barat Laut dengan kecepatan berkisar antara 10 sampai 30 kilometer per jam, dengan temperatur maksimal 31,5 sampai 33,5 derjat celcius (siang hari) dan temperatur minimum 21,5 sampai 23,5 derjat celcius (malam hingga dini hari).

Analis Lembaga BMKG menambahkan, hujan dengan intensitas ringan yang berarti 0,1 hingga 20 milimeter (mm) per hari, dan dengan intensitas sedang 20 sampai 50 mm per hari, akan lebih rutin terjadi hingga pertengahan November 2012.


Bencana Banjir

Bencana banjir adalah salah satu `penyakit` yang datang ketika musim hujan melanda wilayah Riau.

Bencana banjir terbesar melanda Riau pada akhir 2011 atau tepatnya pada pertengahan Desember (tahun lalu).

Hujan deras yang turun secara terus menerus ketika itu, menyebabkan tiga kabupaten di Riau dilanda banjir. Tercatat lebih dari 7.500 rumah penduduk tergenang air dengan ketinggian bervariasi.

Tiga kabupaten di Riau yang dilanda banjir ketika itu di antaranya yakni Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Kampar dan Rokan Hulu.

Untuk Kabupaten Kuantan Singingi, diperkirakan ada sebanyak 6.000 rumah penduduk tergenang air. Setidaknya tercatat sembilan kecamatan seluruhnya menjadi korban banjir.

Ketinggian air yang merendam sejumlah kawasan Kuantan Singingi ketika itu bervariasi, mulai dari satu meter malah ada yang sampai menjangkau tiga meter.

Akibat bencana banjir itu, aktivitas kebanyakan masyarakat menjadi terganggu. Karena dengan sendirinya jalur transportasi darat terputus.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kuantan Singingi, Tarmis, ketika itu mengatakan bahwa banjir yang melanda wilayahnya merupakan dampak dari meluapnya air Sungai Batang Kuantan. Banjir dari luapan sungai ini tentunya disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini.

Pihaknya juga mencatat, bencana ketika itu merupakan banjir terparah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Selain rumah warga yang tergenang air, fasilitas umum seperti sekolah, masjid juga turut terendam.

Bencana sama di akhir tahun 2011 itu juga melanda Kabupaten Kampar. Salah satu kawasan yang terkena banjir paling parah yakni Kecamatan Kampar Kiri. Di kawasan ini sebanyak sembilan desa juga menjadi korban banjir, di mana terdata lebih dari 1.200 rumah penduduk tergenang air hingga aktivitas perkebunan pun menjadi mati suri.

Tidak hanya itu, banjir besar yang melanda kawasan Kabupaten Kampar ketika itu juga menyebabkan akses jalan antardesa seluruhnya terputus total.

Sementara di Kabupaten Rokan Hulu di tahun yang sama sempat dilaporkan bahwa ada lebih dari 600 rumah penduduk juga turut dilanda banjir. Lebih dari seribuan warga terpaksa mengungsi ke posko penanggulangan bencana yang di buka oleh Dinas Sosial setempat. Kerugian bahkan mencapai miliaran rupiah.


Peralihan Musim

Memasuki tahun 2012, Riau mulai beralih ke musim kering di mana sejumlah kawasan `Bumi Lancang Kuning` justru terkepung oleh kepulan asap yang diindikasi sebagai dampak dari kasus-kasus kebakaran hutan atau lahan gambut.

Cukup panjang situasi darurat akibat musim kemarau itu. Bahkan berbagai `event` olahraga meliputi Piala Asia (AFC) hingga pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII 2012 hingga Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV di tahun yang sama sempat diwarnai kemunculan si kabut asap.

Bahkan untuk mengantisipasinya, pemerintah juga menggelotorkan anggaran sebesar Rp100 miliar, yang faktanya tak juga mampu `mengusir` kabut asap dampak kebakaran hutan atau lahan gambut itu.

Kini, di penghujung tahun 2012, Riau kembali memasuki musim hujan, di mana sejumlah wilayah telah mulai diguyur hujan dengan intensitas ringan, sedang, bahkan begitu deras.

`Penyakit asap`, berganti `penyakit` musim penghujan. Bencana mulai melirik terlebih ketika Dinas Sosial Pemerintah Provinsi Riau mengaku tidak memiliki data konkrit atau peta lokasi terkini untuk berbagai daerah yang berpotensi cukup tinggi atau rawan terkena bencana banjir tahunan.

Pejabat dinas tersebut mengakui sudah sejak beberapa tahun ini, memang tidak lagi melakukan pemetaan terhadap daerah rawan banjir di Riau.

Umumnya untuk saat ini, pihak Dinsos hanya memiliki data mengenai lokasi yang kerap dilanda bencana banjir ketika musim hujan datang.

Sejumlah wilayah yang dimaksud, rata-rata berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) seperti Sungai Kampar, Tapung dan Sungai Siak dan lainnya, tetapi memang sudah tidak lagi ada pemetaan secara khusus.

Selayaknya memang setiap provinsi itu memiliki peta rawan bencana yang bisa diantisipasi secara dini apabila terjadi cuaca ekstrim.

"Sejauh ini untuk mekanisme berjenjang tersebut memang belum optimal, dan untuk tahun ini (2012) perlu dilakukan koordinasi yang lebih baik lagi," ungkap pejabat Dinas Sosial Riau.

Sementara pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Pekanbaru mengklaim ada sebanyak 38 kecamatan di Provinsi Riau terdeteksi sebagai kawasan rawan bencana banjir untuk tahun ini.

Analis pada lembaga pemantau cuaca itu, Aristya Ardhitama, menguraikan, ke-38 kecamatan dimaksud tersebar di seluruh kabupaten maupun kota se-Provinsi Riau.

Berikut beberapa nama wilayah kecamatan yang masuk daftar wilayah rawan banjir pada tahun 2012 ; meliputi Kecamatan Bangkinang, Bangko, Batang Tuaka, Bengkalis, Bukit Batu, Bukit Raya, Cerenti, Dumai Barat, Gaung Anak Serka, Kampar Kiri, Kateman, Kepenuhan, Kuala Indragiri, Kuala Kampar dan Kuantan Hilir serta Kuantan Mudik.

Kemudian Kecamatan Kuantan Tengah, Kubu, Kunto Darussallam, Mandah, Merbau, Pasir Penyu, Peranap, Rambah, Rengat, Rokan VI Koto, Rumbai, Rupat, Sail, Seberida, Siak Hulu, Singingi, Tampan, Tandun, Tembilahan, Tambusai, XIII Koto Kampar dan Batam Barat.


Pemetaan Bencana

Kendati demikian, guna mengantisipasi banjir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau juga telah melakukan upaya pemetaan daerah rawan banjir.

Sekretaris BPBD Riau, Kaifi Azmi, mengatakan, pemetaan daerah rawan banjir itu menjadi fokus utama pihaknya.

"Dari pemetaan itu, nanti akan terlihat lebih jelas daerah-daerah rawan bencana di Riau. Misalnya, kalau warna kuning itu daerah rawan banjir, warna merah misalnya rawan gempa bumi. Hijau atau biru daerah rawan longsor. Pokoknya dalam peta itu nanti akan tergambar dengan jelas," katanya.

Dalam pemetaan nanti diakuinya akan dilibatkan juga pihak luar yang ahli di bidangnya sehingga pembacaan dan pemetaan tidak mengalami kekeliruan.

Diharapkan dengan adanya pemetaan ini akan mempermudah tugas dari BPBD dan sejumlah instansi serta lembaga terkait lainnya untuk melakukan antisipasi terhadap `penyakit` musim hujan seperti bencana banjir yang mungkin saja dapat terjadi sewaktu-waktu. (FZR/KWR)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga